The Guardians Part 2: The Guardians
12.41Yang unik di sini, beberapa nama guru aku ambil dari nama guru-guruku sewaktu sekolah. Guru yang aku maksud mempunyai kesamaan karakter atau background dengan tokoh di The Guardians. Memikirnya membuatku tertawa sendiri. Karena selain guru yang menginspirasi, guru yang menyebalkan pun aku pakai namanya di sini. Hehe... Di bagian kedua ini, banyak penjelasan tentang siapa itu Mia dan keluarganya, dan banyak lagi.. Happy reading, happy fantasying! ^__^
Ternyata tidak hanya Mia dan Viktor yang berangkat menuju Bandung malam
itu. Ada pula Sasha, sahabat Mia, beberapa murid dan guru di Padepokan
Marshall, diantaranya Shena yang mampu membaca gejala alam, Rio yang mahir
dalam bela diri, dan Guru Kinesis dan Martial Arts, Pak Ismail, seorang Psikolog
pendamping Mutan, Bu Puji, dan seorang Cryptozoologist
muda, atau ahli makhluk hidup cryptid yang belum dikenal sains, Mr. Edo
Vesper yang sering berkunjung ke Puri Marshall. Kedelapan orang tersebut berangkat
ke Bandung dengan menumpang kereta kelas eksekutif malam itu juga.
Selama sepuluh jam perjalanan darat itu, Mia menahan diri untuk tidak menanyakan
kepada lainnya perihal keperluan mereka ke Bandung di dalam gerbong, meskipun ia
sangat ingin tahu. Rahasia guardians
harus dijaga rapat-rapat. Guardians adalah
istilah yang dipakai para mutan seperti Mia dan lainnya untuk membedakan jenis
mereka dari manusia biasa.
Mia sendiri tidak begitu mengerti awal mula dan seluk beluk guardians. Ingatannya hanya terbatas
saat pertama kali ia tiba di Puri Marshall delapan tahun silam. Mia tidak
mempunyai ingatan apapun tentang masa lalu sebelum ia tinggal dengan keluarga
Marshall.
Menurut cerita orang tua angkatnya, Mia adalah seorang anak yatim piatu
yang tinggal di panti asuhan di kota kecil sebelah selatan dari kota Semarang. Pada
awal Mia memulai hidupnya setelah ingatannya hilang, ia menimbulkan banyak masalah
berkaitan dengan bakatnya sebagai pengendali api sehingga ia harus ditempatkan
dalam ruang isolasi di ruang bawah tanah Puri Marshall. Emosinya yang tidak
terkontrol dapat menyebabkan benda-benda disekitarnya terbakar bahkan hangus
seketika. Namun lama kelamaan, dengan bantuan Bu Puji, Psikolog Pendamping Mutan
di padepokan Marshall dan Tante Irma, Ibu dari Sasha yang seorang instruktur
Yoga, Mia perlahan dapat mengontrol kemampuannya.
Mengingat kejadian delapan tahun silam membuat Mia bergidik, ia pernah hampir
membakar pembantu keluarga Marshall, Mbok Lia yang biasa membersihkan dan merapikan
ruang isolasinya. Dua minggu lalu pun Mia kembali hampir membakar dapur dan wanita
tua berusia tujuh puluh satu tahun itu ketika Mia ingin membantunya menyalakan
api kompor dengan caranya sendiri.
“Dor!” Sasha yang duduk di sampingnya membuyarkan lamunan Mia, “Miss Daydreamer! Melamun aja kerjaan
lo!” seru Sasha.
“Ngagetin aja kerjaan, lo!” sungut Mia.
“Lah dipanggil-panggil nggak nyalak-nyalak juga ya gue kagetin aje,”
Sasha beralasan.
“Lo kira gue anjing, nyalak-nyalak, huh.”
“Hahaha.. Udah tukang ngelamun, ngambekan lagi. Lama-lama gue kuncir
juga bibir lo yang manyun melulu,” seloroh Sasha.
“Habisnya bingung mau ngapain. Mana masih lama lagi nyampenya.”
“Daripada ngelamun, coba lo angetin kaki gue, dingin nih AC-nya,” bisik
Sasha pelan, takut suaranya terdengar orang lain.
“Serius lo? Gue nggak tanggung jawab kalau jadinya kaki lo malah
gosong, ya?”
“Eh, jangan lah. Mentang-mentang mulusan kaki gue, lo sirik, mau bakar
aja.”
“Nah elo, udah tau dingin, pake celana pendek. Mau pamer ke siapa juga,
orang gelap gini.”
“Iya, iya. Bawel ah. Eh coba lo lihat nih. Pengunjung Web gue udah mencapai
lima juta view!” seru Sasha bangga sambil
menunjukkan layar Ipadnya pada Mia.
Mia melirik Ipad Sasha, “Lo nyedian tips-tips hacking? Serius lo?”
“Haha… awalnya tips gue berhasil mereka praktekkin. Tapi mereka nggak
tahu kalau dengan jalanin tips gue, data-data di komputer mereka jadi bisa gue
akses semua. Hihihi…”
“Elo ini, emang pinter Sha. Tapi sifat jahat lo udah mendarah daging. Ga ketolong,” Mia kagum
dengan sahabatnya ini.
“Habisnya… Ngapain juga orang pengen hack akun Facebook atau Twitter orang lain? Ini konsekuensi dari
niat buruk mereka sejak awal. Mereka dapat ilmu hacking-nya tapi komputer mereka sendiri jadi kena hack gue. Hehehe…”
“Elo ah. Jadi bikin gue takut berteman sama elo. Jangan-jangan elo suka
hack komputer gue,” curiga Mia.
“Ah, elo, nyentuh komputer aja seabad sekali. Apa yang bisa gue hack… haha,” Sasha tertawa kecil.
Tiba-tiba Mia memikirkan suatu ide, “Eh, Sha. Elo kan sohib gue. Kita
udah kayak sister gitu kan. Gue minta tolong, dong…”
“Jangan bilang elo minta gue hack
komputer Kakak elo,” tebak Sasha.
“Hehehe..” Mia meringis. Sahabatnya ini selalu tahu isi pikirannya.
“Elo sama aja kayak visitors situs
gue yang kepo-an. Ogah,” tolak Sasha
mentah-mentah.
“Ah, nggak setia kawan lo,” gerutu Mia.
Tidak memperdulikan gerutuan Mia, Sasha kembali asik dengan Ipadnya
lalu memasang earphone di kedua
telinganya.
Sementara itu seorang pramugari kereta api datang dengan kereta dorong berisi
selimut-selimut tebal lalu membagikannya kepada para penumpang.
“Oh, thanks, God! Dingin
banget!” seru Sasha girang sambil menerima selimut yang diulurkan si pramugari
kereta api.
***
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Itu berarti masih lima jam
perjalanan lagi untuk mencapai Bandung. Sasha yang duduk di samping Mia
mendengkur halus sambil menyandarkan kepalanya pada bantal kecil yang
disediakan oleh penyedia layanan kereta api eksekutif itu.
Mia penasaran dengan yang lainnya. Apakah mereka semua juga sudah
tertidur? Sesekali terdengar bisik-bisik kecil di dalam gerbong itu. Karena
hari itu weekend, Kebanyakan
penumpang di gerbong tersebut adalah para mahasiswa.
“Fotia… Fotia…” tiba-tiba sayup-sayup Mia mendengar
suara mendesis yang entah darimana asalnya.
Berkali-kali suara itu mengucap kata yang sama fotia.. fotia.. yang Mia sendiri tak mengerti artinya. Mungkin itu
nama salah satu penumpang di sini? Penerangan dalam kereta yang remang
membatasi pandangan Mia yang ingin tahu siapa si penganggu yang tengah malam
begini memanggil orang dengan suara mendesis yang cukup seram, menurutnya.
Kenapa juga orang yang bernama Fotia tidak menyahut panggilannya, pikir Mia.
Pukul lima pagi Mia dan rombongannya tiba di Stasiun Bandung. Dua unit mobil
menjemput kedatangan mereka. Semalaman tidur Mia terganggu karena mendengar
suara aneh yang menyuarakan nama Fotia hingga
fajar. Ia pun tertidur di dalam mobil penjemputnya.
Ketika Mia dibangunkan, mobil telah berhenti di depan sebuah rumah
besar berlantai dua yang terletak di tengah kebun sayur mayur di perbukitan
yang terhampar luas. Mama Mia sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah
tersebut.
Mia, Sasha, dan Shena ditempatkan di kamar tidur yang sama di lantai
dua rumah itu. Ternyata sudah ada seorang anak perempuan lain yang menempati
tempat itu.
“Hallo, Grace. Ini anak tante, Mia. Kalau ini, Sasha dan Shena,” Mama
Mia memperkenalkan tamu baru di rumah itu kepada perempuan berwajah caucasian yang kelihatannya masih sebaya
dengan Mia itu.
Grace yang memakai gaun putih sepanjang lutut dengan sepatu dan stoking berwanra senada itu tidak beranjak dari duduknya di atas ranjang. Ia hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“Mia, Sasha, Shena, ini Grace dari Perancis. Tapi tenang saja, Grace bisa berbahasa Indonesia. Malam ini kalian berempat akan berbagi tempat tidur. Sekarang bereskan barang-barang kalian dan mandi. Jam 7 kita sarapan di ruang makan lantai satu. Biar Grace yang menunjukkannya pada kalian nanti,” terang Mama Mia. “Tante tinggalkan kalian dulu, ya,” Mama Mia berlalu dari ruangan itu.
Kamar berukuran 5x10 meter itu memiliki dua tempat tidur king size, meja kecil di sisi kiri dan
kanan ranjang, sebuah meja rias di antara kedua tempat tidur, lemari pakaian
yang cukup besar di seberang kanan tempat
tidur, dan kamar mandi di sisi kiri ruangan.
Berapa malam mereka akan singgah di rumah ini? Mereka hanya diberitahu agar
berangkat ke Bandung dengan kereta malam itu, membawa pakaian dan perlengkapan
secukupnya. Tanpa tahu keperluan apa yang akan mereka lakukan di Bandung, di
rumah ini.
“Emm, Grace. Kamu udah sejak kapan tiba di sini?” tanya Sasha ragu
melihat Grace yang tidak bergeming dari tempat duduknya dan tidak mengeluarkan
suara sedikitpun sejak kedatangan mereka. Apa benar cewek Indo ini mengerti
bahasa Indonesia?
“Dua hari lalu,” jawab Grace singkat. “Kalian sebaiknya cepat mandi,
satu jam lagi kita sarapan,” tutur Grace dalam bahasa Indonesia yang lancar dan
fasih sambil meraih sisir di meja samping tempat tidurnya. Ia mulai menyisir
rambut pirangnya yang panjang.
“Kalau gitu gue duluan ya. Udah kebelet B-A-B dari tadi,” cetus Shena
si tomboy bertubuh mungil.
“Elo makan terus tapi badan segitu-segitu aja, Shen. Usus lo lurus
kali, begitu masuk, langsung lo keluarin, haha…” seloroh Sasha sambil menyeret
kopernya ke arah lemari pakaian. Mia melakukan hal yang sama.
“Sebenarnya, kita disuruh kemari untuk apa, sih? Grace, kamu tahu
nggak?” tanya Sasha sambil memindahkan pakaiannya ke dalam lemari pakaian.
“Well, setahuku, para guardian dewasa akan mengajak kita ikut
rapat mengenai jenis kita,” jawab Grace tenang.
“Rapat?” ulang Mia. Mia memang mengetahui para guardian dewasa seperti kedua orang tuanya selalu mengadakan rapat
berkala, tapi baru kali ini guardian muda
seperti dia diikutsertakan.
“Kalian tahu, mau tidak mau,
kita pasti menghadapi ancaman dari golongan hitam. Dan itu tidak lama lagi,
menurut Madam Narnia,” jawab Grace kalem sambil mulai mengepang rambutnya
menjadi dua.
“Golongan hitam? Ancaman? Ancaman apa? Siapa Madam Narni?” Mia
memberondongkan pertanyaan.
“Madam Narnia itu guardian peramal
yang tinggal di Perancis,” sahut Sasha. Ternyata sahabatnya itu lebih tahu
banyak tentang guardian daripada Mia
sendiri.
“Guys, kalian tahu kan, tidak semua mutan seperti kita? Mutan golongan
putih, The Guardians,” Grace heran
dengan pertanyaan Mia.
“Aku cuma dengar sedikit penjelasan itu dari Mama waktu dulu,” Mia
mencoba mengingat cerita yang pernah Mama angkatnya ceritakan padanya
bertahun-tahun lalu. “Ada mutan putih dan hitam…. Benarkah ada ancaman dari
mereka? Seberapa besar ancaman itu?” tanya Mia lagi.
“Sebesar… well, kita The Guardians juga besar kan? Mungkin
sebesar kita. Atau bisa lebih besar lagi. Entahlah. Aku sendiri belum tahu banyak.
Tahu-tahu sudah ditugaskan ke tempat ini oleh Sir August— pemimpin European Guardians, kalau kalian belum
tahu,” jelas Grace. “Ngomong-ngomong, apa skill
kalian? Seperti kalian lihat sendiri, aku bisa berbicara dalam berbagai bahasa,
termasuk bahasa kuno dan menerjemahkan simbol. AKu juga bisa memecahkan kode.”
“Aku pengendali api, Sasha peretas komputer, dan Shena pembaca gejala alam,”
terang Mia.
“Kamu bilang kamu pengendali api?” tanya Grace memastikan.
“Ya. Pyrokinesis, tapi aku masih belajar,” imbuh Mia.
“Mereka sangat langka,” ucap Grace sambil menerawang. “Hmm… Peretas
komputer? Apakah itu termasuk salah satu jenis mutan?” tanya Grace ragu.
“Secara langsung memang aku bukan mutan. Papaku yang seorang mutan, ia
bisa telekinesis, sedangkan ibuku instruktur yoga,” tutur Sasha.
“Oh begitu. Di Asia, bahkan bukan mutanpun boleh bergabung dengan
kelompok mutan yah…” Grace mengungkapkan kekecewaannya. Hal ini sedikit mengusik
Sasha. Membuatnya merasa tidak diterima oleh guardian yang baru
dikenalnya itu. “Aku dengar ada dari kalian yang bisa terbang?” tanya Grace.
“Itu kakakku, Viktor,” jawab Mia. “Sasha ini walaupun bukan guardian tapi dia banyak membantu kami
dalam mengembangkan kekuatan dan perisai kami. Jadi dia nggak bisa diremehkan,”
imbuh Mia ingin membela sahabatnya.
“Oh ya. Viktor. Aku penasaran dengannya. Dia cukup terkenal di kalangan
European Guardians,” tutur Grace tidak memperdulikan penjelasan Mia tentang
peran Sasha.
“Wah benarkah? Dia emang cakep sih. Cool
pula. Tapi kelihatannya nggak tertarik sama cewek manapun. Karena dia itu pengidap
Sister Complex. Dia maunya cuma sama
Mia, hihihi,” sahut Sasha, berganti membela sahabatnya yang wajahnya mulai berubah
menjadi masam mendengar Grace yang antusias membicarakan Viktor.
“Sister complex? Menarik
juga,” ucap Grace merasa tertantang.
“Guys, gue udah selesai, giliran siapa nih?” Shena sudah keluar dari
kamar mandi berbalut handuk.
“Gue dulu,” Mia buru-buru menyerobot masuk kamar mandi sebelum Sasha sempat
bangkit dari tempatnya.
Sambil menyiram tubuhnya, Mia menggerutu dalam hati.
“Terkenal di kalangan guardian Eropa? Huh. Aku
malah baru tahu kalau guardian nggak cuma ada di Indonesia. Grace pasti naksir
Kak Viktor. Grace cantik, bule, pinter ngomong segala bahasa pula, bisa mecahin
kode-kode, bisa mecahin biji kenari juga, mungkin, atau mecahin batu kali.” Sungut Mia dalam hati.
“Kak Viktor cakep, berbakat, cool, dan
terkenal. Huh… setidaknya ada cewek yang lebih baik dari Kak Putri yang naksir
dia. Tapi… Kalau Grace beneran naksir Kak Viktor, gimana? Nggak mungkin Kak
Viktor nggak tertarik dengan cewek semacam Grace. Ah.. Apaan sih? Kenapa jadi kesel
gini? Apa benar aku naksir Kak Viktor? Atau ini cuma perasaan cemburu alami
seorang adik?” Mia bertengkar
dengan dirinya sendiri.
Karena kesal, tidak sengaja Mia melelehkan botol sabun yang sedang
dipegangnya. Ya ampun…
***
Ternyata peserta sarapan pagi itu jauh lebih banyak dari perkiraan Mia.
Sembilan belas orang duduk mengelilingi meja makan yang memanjang itu. Di ujung
kiri meja, duduk seorang kakek tua gendut berpakaian adat sunda yang merupakan
pemilik rumah bernama Singaraja. Di seberangnya, di ujung kanan meja, seorang
wanita tua kurus berpakaian adat sunda duduk dengan anggun.
“Mungkin mereka suami istri,” Tebak Mia dalam hati.
Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Putri Wulansari, generasi terakhir keluarga kerajaan Parahyangan.
Mia teringat kembali sebuah cerita rakyat tentang kerajaan Parahyangan yang pernah di dengarnya ketika SD. Parahyangan merupakan kerajaan yang konon pernah berjaya di masa lalu namun tak pernah ditemukan artefak-artefak peninggalannya, jadi keberadaannya masih dipertanyakan oleh para arkeolog dan sejarawan.
“Jadi, memang benar kerajaan Parahyangan itu pernah
ada,” pikir Mia.
Di samping kiri Putri Wulansari, duduk Mama angkat Mia, disusul tante
Irma, Bu Puji, Sasha, Mia, Shena, Grace, dan seorang wanita Eropa lain berusia
kira-kira tiga puluh tahun bernama Leona yang datang bersama Grace dan pria
bernama Arthur yang seusia dengannya, pria Eropa satu-satunya di meja makan itu.
Kelihatannya mereka berdua sepasang kekasih.
Leona mempunyai keahlian mengendalikan udara, sedangkan Arthur dapat
membaca pikiran orang lain dengan menyentuh tangan mereka.
Di meja seberang tempat duduk Mia, dari sebelah kiri tempat duduk Singaraja
duduk Papa angkat Mia, disusul oleh Om Danu yang merupakan Pembina Padepokan
Marshall, Pak Ismail, Mr. Edo, Arthur, Viktor, Rio dan dua orang dewasa asing lain.
Pria yang duduk tepat di sebelah kiri Rio bernama Mr. Takeda, pengendali air
dari Jepang yang menurut pengakuannya ia berusia 35 tahun. Bersamanya, Mr.
Takeda membawa seekor binatang peliharaan sejenis anjing kecil berwarna pink
muda, namun anjing itu dapat melayang-layang dengan sayap kecil di punggungnya.
Begitu melihat Mia, anjing itu menyahut gembira berseru “krrrr…..krrr….” dan
mengibas-kibaskan ekornya di udara dengan riang.
Pria lainnya bernama Chan, yang mendapat julukan Iceman yang berusia 24 tahun, berasal dari China Utara. Chan dapat
bertahan terhadap terpaan hawa dingin. Keunikannya ini terlanjur diketahui
masyarakat China dan seluruh dunia. Tetapi rahasia tentang mutan dan Guardians tetap ia jaga.
“Pertemuan kita pagi ini merupakan bagian dari pertemuan guardians di seluruh dunia,” setelah
acara sarapan pagi selesai dan perlengkapan dibereskan, Singaraja membuka rapat
pagi itu di meja yang sama.
Tahu-tahu anjing terbang milik Mr. Takeda melayang mendekati Mia. Setelah
mencapainya, anjing itu mengibas-kibaskan ekornya pada leher Mia, membuatnya
kegelian.
“Beberapa saat lalu, aku mendapat kabar dari Madam Narnia dari
Perancis…” ia memberi jeda pada pidatonya.
“Mutan golongan hitam di Eropa atau yang menyebut diri mereka patricians telah memulai melakukan
hal-hal buruk setelah delapan tahun kita hidup damai tanpa adanya kabar
kebangkitan mutan golongan hitam selama ini. Penglihatan Madam Narnia menunjukkan
para patricians telah merekrut
mutan-mutan baru dari seluruh dunia untuk bergabung dengan golongan mereka.
Oleh karena itu, kita guardians harus
mewaspadai hal ini. Beberapa kekacauan akibat ulah patricians mulai terjadi di Eropa. hal ini tidak baik untuk kerahasiaan
jenis kita dan tentunya keselamatan umat manusia. Aku sebagai pemimpin Guardian
Orde Asia, menugaskan guardian muda
di sini untuk mencari dan merekrut mutan baru dari seluruh penjuru dunia. Hal
yang sama juga akan dilakukan oleh guardian
muda Eropa.
Menurut ramalan Madam Narnia, waktu kita sedikit. Paling lama satu
tahun dan paling cepat enam bulan untuk mengumpulkan kekuatan dan melatih kemampuan
kita yang telah ada,” Singaraja mengakhiri pidatonya.
Putri Wulansari melanjutkan, “Seperti yang telah kita ketahui, kita
masih harus mengumpulkan mutan pengendali bumi. Dan syukurlah kita telah
menemukan tiga mutan pengendali 3 elemen penting lainnya, yaitu Mia, pengendali
api, Leona, pengendali angin dan Mr. Takeda, pengendali air. Aku, sebagai generasi
terakhir dari kerajaan Parahyangan akan memberikan sebagian dari kemampuanku
untuk mutan muda yang akan bertugas, agar dapat menyinggahi tempat yang berbeda
dalam waktu sekejab. Itulah kemampuanku, world
jumping. Ini akan memudahkan kalian menemukan apa yang harus kalian cari.
Kami para tetua guardian akan
mengawasi dan melindungi kalian dari tempat kami berada.
Kalian akan dibagi menjadi tiga tim yang terdiri dari tiga sampai empat anggota. Setelah kami pertimbangkan, inilah susunan kelompok tim pencari mutan baru:
Tim 1 terdiri dari Mr. Takeda, Mr. Edo dan Chan yang bertugas mencari mutan di Benua Amerika.
Tim 2 beranggotakan Shena, Leona dan Arthur yang bertugas mencari mutan di Benua Eropa.
Tim 3 terdiri dari Grace, Viktor, Mia dan Rio yang bertugas menemukan mutan di Benua Asia.
Dalam usaha kalian menemukan mutan baru, kalian akan dibekali jumping skill dariku yang dapat kalian
gunakan dua kali dalam sehari. Gunakan itu untuk berangkat menuju tempat tujuan
kalian dan kembali ke tempat asal.
Selama tiga hari dalam satu minggu kalian harus melakukan tugas ini dimulai dari pukul empat sore sampai delapan malam setelah kalian menjalani hidup biasa kalian sebagai pelajar atau pekerja lainnya. Empat hari lainnya pada jam yang sama, kalian pergunakan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan kalian dengan bimbingan dari Tim A.
Adapun tim pengawas dan pelindung adalah:
Tim A yang terdiri dari Pak Ismail sebagai guru Kinesis dan Martial Arts yang akan membantu kalian mengembangkan kemampuan alami kalian dan berlatih bela diri.
Dibantu oleh Ibu Puji sebagai Psikolog Pendamping Mutan yang akan membantu kalian mengenal dan mendalami karakter pribadi kalian masing-masing.
Bu Irma akan mengajarkan kalian Yoga supaya kalian menguasai pengendalian diri dan mencapai kemampuan yang maksimal.
Tim pengawas dan pelindung kedua yaitu Tim B, terdiri dari Singaraja dan saya, Putri Wulansari.
Singaraja akan terus berkomunikasi dan berunding dengan European Guardians. Sedangkan aku, Putri Wulansari akan terus mengembangkan kemampuan world jumpingku agar dapat bekerja lebih baik demi membantu tugas kalian.
Tim C yaitu Rino Marshall, dengan kemampuan photographic memory-nya, Rina Marshall dengan anugerah ilmu fisikanya, dan Danu yang menguasai telekinesis akan mengembangkan strategi pertahanan terbaik untuk melawan Patricians.
Demikian penjelasan dari kami. Jika ada pertanyaan silakan angkat tangan.”
Viktor segera mengangkat tangan pertanda ingin bertanya, “Siapa itu patricians dan seberapa kuat mereka?”
Singaraja memimpali, “Sebelum para mutan berkumpul dan dan menjalin
persaudaran puluhan tahun lalu, para mutan
sudah terpecah menjadi dua golongan dengan dua tujuan hidup yang berbeda.
Golongan putih, atau guardians dan
golongan hitam yang menyebut diri mereka patricians.
Kedua golongan guardians maupun patricians dahulu mempunyai pemimpin yang
sama, Kashioki seorang penguasa empat element, mutan terkuat saat itu. Setelah
Kashikoi wafat, Aleron, mutan penguasa empat
elemen lainnya dari Perancis menggantikannya. Namun Aleron merupakan patrician yang tidak menghargai jenis
manusia biasa. Sampai akhirnya perang saudara pun pecah selama tujuh tahun
sejak lima belas tahun lalu. Banyak patricians
dan guardians tewas. Dikabarkan
Aleron menderita luka parah dan kehilangan kekuatannya sehingga pada tahun
ketujuh, Aleron dan patricians tidak
lagi muncul maupun membuat kerusakan di muka bumi.”
“Dan sekarang, mereka muncul kembali?” tanya Mia lirih.
Anjing Mr. Takeda sudah duduk manis di pangkuannya.
BERSAMBUNG……...
0 komentar
Can't resist the urge to talk to me? Leave your love letters here... I am kidding :P, but seriously, I want to get in touch with you, so... leave your humble comments here, guys