The Guardians Part 2: The Guardians

12.41

Yang unik di sini, beberapa nama guru aku ambil dari nama guru-guruku sewaktu sekolah. Guru yang aku maksud mempunyai kesamaan karakter atau background dengan tokoh di The Guardians. Memikirnya membuatku tertawa sendiri. Karena selain guru yang menginspirasi, guru yang menyebalkan pun aku pakai  namanya di sini. Hehe... Di bagian kedua ini, banyak penjelasan tentang siapa itu Mia dan keluarganya, dan banyak lagi.. Happy reading, happy fantasying! ^__^

Ternyata tidak hanya Mia dan Viktor yang berangkat menuju Bandung malam itu. Ada pula Sasha, sahabat Mia, beberapa murid dan guru di Padepokan Marshall, diantaranya Shena yang mampu membaca gejala alam, Rio yang mahir dalam bela diri, dan Guru Kinesis dan Martial Arts, Pak Ismail, seorang Psikolog pendamping Mutan, Bu Puji, dan seorang Cryptozoologist muda, atau ahli makhluk hidup cryptid yang belum dikenal sains, Mr. Edo Vesper yang sering berkunjung ke Puri Marshall. Kedelapan orang tersebut berangkat ke Bandung dengan menumpang kereta kelas eksekutif malam itu juga.

Selama sepuluh jam perjalanan darat itu, Mia menahan diri untuk tidak menanyakan kepada lainnya perihal keperluan mereka ke Bandung di dalam gerbong, meskipun ia sangat ingin tahu. Rahasia guardians harus dijaga rapat-rapat. Guardians adalah istilah yang dipakai para mutan seperti Mia dan lainnya untuk membedakan jenis mereka dari manusia biasa.

Mia sendiri tidak begitu mengerti awal mula dan seluk beluk guardians. Ingatannya hanya terbatas saat pertama kali ia tiba di Puri Marshall delapan tahun silam. Mia tidak mempunyai ingatan apapun tentang masa lalu sebelum ia tinggal dengan keluarga Marshall.

Menurut cerita orang tua angkatnya, Mia adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan di kota kecil sebelah selatan dari kota Semarang. Pada awal Mia memulai hidupnya setelah ingatannya hilang, ia menimbulkan banyak masalah berkaitan dengan bakatnya sebagai pengendali api sehingga ia harus ditempatkan dalam ruang isolasi di ruang bawah tanah Puri Marshall. Emosinya yang tidak terkontrol dapat menyebabkan benda-benda disekitarnya terbakar bahkan hangus seketika. Namun lama kelamaan, dengan bantuan Bu Puji, Psikolog Pendamping Mutan di padepokan Marshall dan Tante Irma, Ibu dari Sasha yang seorang instruktur Yoga, Mia perlahan dapat mengontrol kemampuannya.

Mengingat kejadian delapan tahun silam membuat Mia bergidik, ia pernah hampir membakar pembantu keluarga Marshall, Mbok Lia yang biasa membersihkan dan merapikan ruang isolasinya. Dua minggu lalu pun Mia kembali hampir membakar dapur dan wanita tua berusia tujuh puluh satu tahun itu ketika Mia ingin membantunya menyalakan api kompor dengan caranya sendiri.

“Dor!” Sasha yang duduk di sampingnya membuyarkan lamunan Mia, “Miss Daydreamer! Melamun aja kerjaan lo!” seru Sasha.

“Ngagetin aja kerjaan, lo!” sungut Mia.

“Lah dipanggil-panggil nggak nyalak-nyalak juga ya gue kagetin aje,” Sasha beralasan.

“Lo kira gue anjing, nyalak-nyalak, huh.”

“Hahaha.. Udah tukang ngelamun, ngambekan lagi. Lama-lama gue kuncir juga bibir lo yang manyun melulu,” seloroh Sasha.

“Habisnya bingung mau ngapain. Mana masih lama lagi nyampenya.”

“Daripada ngelamun, coba lo angetin kaki gue, dingin nih AC-nya,” bisik Sasha pelan, takut suaranya terdengar orang lain.

“Serius lo? Gue nggak tanggung jawab kalau jadinya kaki lo malah gosong, ya?”

“Eh, jangan lah. Mentang-mentang mulusan kaki gue, lo sirik, mau bakar aja.”

“Nah elo, udah tau dingin, pake celana pendek. Mau pamer ke siapa juga, orang gelap gini.”

“Iya, iya. Bawel ah. Eh coba lo lihat nih. Pengunjung Web gue udah mencapai lima juta view!” seru Sasha bangga sambil menunjukkan layar Ipadnya pada Mia.

Mia melirik Ipad Sasha, “Lo nyedian tips-tips hacking? Serius lo?”

“Haha… awalnya tips gue berhasil mereka praktekkin. Tapi mereka nggak tahu kalau dengan jalanin tips gue, data-data di komputer mereka jadi bisa gue akses semua. Hihihi…”

“Elo ini, emang pinter Sha. Tapi sifat jahat lo udah mendarah daging. Ga ketolong,” Mia kagum dengan sahabatnya ini.

“Habisnya… Ngapain juga orang pengen hack akun Facebook atau Twitter orang lain? Ini konsekuensi dari niat buruk mereka sejak awal. Mereka dapat ilmu hacking-nya tapi komputer mereka sendiri jadi kena hack gue. Hehehe…”

“Elo ah. Jadi bikin gue takut berteman sama elo. Jangan-jangan elo suka hack komputer gue,” curiga Mia.

“Ah, elo, nyentuh komputer aja seabad sekali. Apa yang bisa gue hack… haha,” Sasha tertawa kecil.

Tiba-tiba Mia memikirkan suatu ide, “Eh, Sha. Elo kan sohib gue. Kita udah kayak  sister gitu kan. Gue minta tolong, dong…”

“Jangan bilang elo minta gue hack komputer Kakak elo,” tebak Sasha.

“Hehehe..” Mia meringis. Sahabatnya ini selalu tahu isi pikirannya.

“Elo sama aja kayak visitors situs gue yang kepo-an. Ogah,” tolak Sasha mentah-mentah.

“Ah, nggak setia kawan lo,” gerutu Mia.

Tidak memperdulikan gerutuan Mia, Sasha kembali asik dengan Ipadnya lalu memasang earphone di kedua telinganya.

Sementara itu seorang pramugari kereta api datang dengan kereta dorong berisi selimut-selimut tebal lalu membagikannya kepada para penumpang.

“Oh, thanks, God! Dingin banget!” seru Sasha girang sambil menerima selimut yang diulurkan si pramugari kereta api.
***
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Itu berarti masih lima jam perjalanan lagi untuk mencapai Bandung. Sasha yang duduk di samping Mia mendengkur halus sambil menyandarkan kepalanya pada bantal kecil yang disediakan oleh penyedia layanan kereta api eksekutif itu.

Mia penasaran dengan yang lainnya. Apakah mereka semua juga sudah tertidur? Sesekali terdengar bisik-bisik kecil di dalam gerbong itu. Karena hari itu weekend, Kebanyakan penumpang di gerbong tersebut adalah para mahasiswa.

“Fotia… Fotia…” tiba-tiba sayup-sayup Mia mendengar suara mendesis yang entah darimana asalnya.

Berkali-kali suara itu mengucap kata yang sama fotia.. fotia.. yang Mia sendiri tak mengerti artinya. Mungkin itu nama salah satu penumpang di sini? Penerangan dalam kereta yang remang membatasi pandangan Mia yang ingin tahu siapa si penganggu yang tengah malam begini memanggil orang dengan suara mendesis yang cukup seram, menurutnya. Kenapa juga orang yang bernama Fotia tidak menyahut panggilannya, pikir Mia.

Pukul lima pagi Mia dan rombongannya tiba di Stasiun Bandung. Dua unit mobil menjemput kedatangan mereka. Semalaman tidur Mia terganggu karena mendengar suara aneh yang menyuarakan nama Fotia hingga fajar. Ia pun tertidur di dalam mobil penjemputnya.

Ketika Mia dibangunkan, mobil telah berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua yang terletak di tengah kebun sayur mayur di perbukitan yang terhampar luas. Mama Mia sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah tersebut.

Mia, Sasha, dan Shena ditempatkan di kamar tidur yang sama di lantai dua rumah itu. Ternyata sudah ada seorang anak perempuan lain yang menempati tempat itu.

“Hallo, Grace. Ini anak tante, Mia. Kalau ini, Sasha dan Shena,” Mama Mia memperkenalkan tamu baru di rumah itu kepada perempuan berwajah caucasian yang kelihatannya masih sebaya dengan Mia itu.

Grace yang memakai gaun putih sepanjang lutut dengan sepatu dan stoking berwanra senada itu tidak beranjak dari duduknya di atas ranjang. Ia hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Mia, Sasha, Shena, ini Grace dari Perancis. Tapi tenang saja, Grace bisa berbahasa Indonesia. Malam ini kalian berempat akan berbagi tempat tidur. Sekarang bereskan barang-barang kalian dan mandi. Jam 7 kita sarapan di ruang makan lantai satu. Biar Grace yang menunjukkannya pada kalian nanti,” terang Mama Mia. “Tante tinggalkan kalian dulu, ya,” Mama Mia berlalu dari ruangan itu.

Kamar berukuran 5x10 meter itu memiliki dua tempat tidur king size, meja kecil di sisi kiri dan kanan ranjang, sebuah meja rias di antara kedua tempat tidur, lemari pakaian yang cukup besar di seberang kanan tempat  tidur, dan kamar mandi di sisi kiri ruangan.

Berapa malam mereka akan singgah di rumah ini? Mereka hanya diberitahu agar berangkat ke Bandung dengan kereta malam itu, membawa pakaian dan perlengkapan secukupnya. Tanpa tahu keperluan apa yang akan mereka lakukan di Bandung, di rumah ini.

“Emm, Grace. Kamu udah sejak kapan tiba di sini?” tanya Sasha ragu melihat Grace yang tidak bergeming dari tempat duduknya dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak kedatangan mereka. Apa benar cewek Indo ini mengerti bahasa Indonesia?

“Dua hari lalu,” jawab Grace singkat. “Kalian sebaiknya cepat mandi, satu jam lagi kita sarapan,” tutur Grace dalam bahasa Indonesia yang lancar dan fasih sambil meraih sisir di meja samping tempat tidurnya. Ia mulai menyisir rambut pirangnya yang panjang.

“Kalau gitu gue duluan ya. Udah kebelet B-A-B dari tadi,” cetus Shena si tomboy bertubuh mungil.

“Elo makan terus tapi badan segitu-segitu aja, Shen. Usus lo lurus kali, begitu masuk, langsung lo keluarin, haha…” seloroh Sasha sambil menyeret kopernya ke arah lemari pakaian. Mia melakukan hal yang sama.

“Sebenarnya, kita disuruh kemari untuk apa, sih? Grace, kamu tahu nggak?” tanya Sasha sambil memindahkan pakaiannya ke dalam lemari pakaian.

Well, setahuku, para guardian dewasa akan mengajak kita ikut rapat mengenai jenis kita,” jawab Grace tenang.

“Rapat?” ulang Mia. Mia memang mengetahui para guardian dewasa seperti kedua orang tuanya selalu mengadakan rapat berkala, tapi baru kali ini guardian muda seperti dia diikutsertakan.

“Kalian tahu, mau  tidak mau, kita pasti menghadapi ancaman dari golongan hitam. Dan itu tidak lama lagi, menurut Madam Narnia,” jawab Grace kalem sambil mulai mengepang rambutnya menjadi dua.

“Golongan hitam? Ancaman? Ancaman apa? Siapa Madam Narni?” Mia memberondongkan pertanyaan.

“Madam Narnia itu guardian peramal yang tinggal di Perancis,” sahut Sasha. Ternyata sahabatnya itu lebih tahu banyak tentang guardian daripada Mia sendiri.

“Guys, kalian tahu kan, tidak semua mutan seperti kita? Mutan golongan putih, The Guardians,” Grace heran dengan pertanyaan Mia.

“Aku cuma dengar sedikit penjelasan itu dari Mama waktu dulu,” Mia mencoba mengingat cerita yang pernah Mama angkatnya ceritakan padanya bertahun-tahun lalu. “Ada mutan putih dan hitam…. Benarkah ada ancaman dari mereka? Seberapa besar ancaman itu?” tanya Mia lagi.

“Sebesar… well, kita The Guardians juga besar kan? Mungkin sebesar kita. Atau bisa lebih besar lagi. Entahlah. Aku sendiri belum tahu banyak. Tahu-tahu sudah ditugaskan ke tempat ini oleh Sir August— pemimpin European Guardians, kalau kalian belum tahu,” jelas Grace. “Ngomong-ngomong, apa skill kalian? Seperti kalian lihat sendiri, aku bisa berbicara dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa kuno dan menerjemahkan simbol. AKu juga bisa memecahkan kode.”

“Aku pengendali api, Sasha peretas komputer, dan Shena pembaca gejala alam,” terang Mia.

“Kamu bilang kamu pengendali api?” tanya Grace memastikan.

“Ya. Pyrokinesis, tapi aku masih belajar,” imbuh Mia.

“Mereka sangat langka,” ucap Grace sambil menerawang. “Hmm… Peretas komputer? Apakah itu termasuk salah satu jenis mutan?” tanya Grace ragu.

“Secara langsung memang aku bukan mutan. Papaku yang seorang mutan, ia bisa telekinesis, sedangkan ibuku instruktur yoga,” tutur Sasha.

“Oh begitu. Di Asia, bahkan bukan mutanpun boleh bergabung dengan kelompok mutan yah…” Grace mengungkapkan kekecewaannya. Hal ini sedikit mengusik Sasha. Membuatnya merasa tidak diterima oleh guardian yang baru dikenalnya itu. “Aku dengar ada dari kalian yang bisa terbang?” tanya Grace.

“Itu kakakku, Viktor,” jawab Mia. “Sasha ini walaupun bukan guardian tapi dia banyak membantu kami dalam mengembangkan kekuatan dan perisai kami. Jadi dia nggak bisa diremehkan,” imbuh Mia ingin membela sahabatnya.

“Oh ya. Viktor. Aku penasaran dengannya. Dia cukup terkenal di kalangan European Guardians,” tutur Grace tidak memperdulikan penjelasan Mia tentang peran Sasha.

“Wah benarkah? Dia emang cakep sih. Cool pula. Tapi kelihatannya nggak tertarik sama cewek manapun. Karena dia itu pengidap Sister Complex. Dia maunya cuma sama Mia, hihihi,” sahut Sasha, berganti membela sahabatnya yang wajahnya mulai berubah menjadi masam mendengar Grace yang antusias membicarakan Viktor.

Sister complex? Menarik juga,” ucap Grace merasa tertantang.

“Guys, gue udah selesai, giliran siapa nih?” Shena sudah keluar dari kamar mandi berbalut handuk.

“Gue dulu,” Mia buru-buru menyerobot masuk kamar mandi sebelum Sasha sempat bangkit dari tempatnya.

Sambil menyiram tubuhnya, Mia menggerutu dalam hati.

“Terkenal di kalangan guardian Eropa? Huh. Aku malah baru tahu kalau guardian nggak cuma ada di Indonesia. Grace pasti naksir Kak Viktor. Grace cantik, bule, pinter ngomong segala bahasa pula, bisa mecahin kode-kode, bisa mecahin biji kenari juga, mungkin, atau mecahin batu kali.” Sungut Mia dalam hati.
“Kak Viktor cakep, berbakat, cool, dan terkenal. Huh… setidaknya ada cewek yang lebih baik dari Kak Putri yang naksir dia. Tapi… Kalau Grace beneran naksir Kak Viktor, gimana? Nggak mungkin Kak Viktor nggak tertarik dengan cewek semacam Grace. Ah.. Apaan sih? Kenapa jadi kesel gini? Apa benar aku naksir Kak Viktor? Atau ini cuma perasaan cemburu alami seorang adik?” Mia bertengkar dengan dirinya sendiri.

Karena kesal, tidak sengaja Mia melelehkan botol sabun yang sedang dipegangnya. Ya ampun…

***

Ternyata peserta sarapan pagi itu jauh lebih banyak dari perkiraan Mia. Sembilan belas orang duduk mengelilingi meja makan yang memanjang itu. Di ujung kiri meja, duduk seorang kakek tua gendut berpakaian adat sunda yang merupakan pemilik rumah bernama Singaraja. Di seberangnya, di ujung kanan meja, seorang wanita tua kurus berpakaian adat sunda duduk dengan anggun.

“Mungkin mereka suami istri,” Tebak Mia dalam hati.

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Putri Wulansari, generasi terakhir keluarga kerajaan Parahyangan.

Mia teringat kembali sebuah cerita rakyat tentang kerajaan Parahyangan yang pernah di dengarnya ketika SD. Parahyangan merupakan kerajaan yang konon pernah berjaya di masa lalu namun tak pernah ditemukan artefak-artefak peninggalannya, jadi keberadaannya masih dipertanyakan oleh para arkeolog dan sejarawan.

“Jadi, memang benar kerajaan Parahyangan itu pernah ada,” pikir Mia.

Di samping kiri Putri Wulansari, duduk Mama angkat Mia, disusul tante Irma, Bu Puji, Sasha, Mia, Shena, Grace, dan seorang wanita Eropa lain berusia kira-kira tiga puluh tahun bernama Leona yang datang bersama Grace dan pria bernama Arthur yang seusia dengannya, pria Eropa satu-satunya di meja makan itu. Kelihatannya mereka berdua sepasang kekasih.

Leona mempunyai keahlian mengendalikan udara, sedangkan Arthur dapat membaca pikiran orang lain dengan menyentuh tangan mereka.

Di meja seberang tempat duduk Mia, dari sebelah kiri tempat duduk Singaraja duduk Papa angkat Mia, disusul oleh Om Danu yang merupakan Pembina Padepokan Marshall, Pak Ismail, Mr. Edo, Arthur, Viktor, Rio dan dua orang dewasa asing lain.

Pria yang duduk tepat di sebelah kiri Rio bernama Mr. Takeda, pengendali air dari Jepang yang menurut pengakuannya ia berusia 35 tahun. Bersamanya, Mr. Takeda membawa seekor binatang peliharaan sejenis anjing kecil berwarna pink muda, namun anjing itu dapat melayang-layang dengan sayap kecil di punggungnya. Begitu melihat Mia, anjing itu menyahut gembira berseru “krrrr…..krrr….” dan mengibas-kibaskan ekornya di udara dengan riang.

Pria lainnya bernama Chan, yang mendapat julukan Iceman yang berusia 24 tahun, berasal dari China Utara. Chan dapat bertahan terhadap terpaan hawa dingin. Keunikannya ini terlanjur diketahui masyarakat China dan seluruh dunia. Tetapi rahasia tentang mutan dan Guardians tetap ia jaga.

“Pertemuan kita pagi ini merupakan bagian dari pertemuan guardians di seluruh dunia,” setelah acara sarapan pagi selesai dan perlengkapan dibereskan, Singaraja membuka rapat pagi itu di meja yang sama.

Tahu-tahu anjing terbang milik Mr. Takeda melayang mendekati Mia. Setelah mencapainya, anjing itu mengibas-kibaskan ekornya pada leher Mia, membuatnya kegelian.

“Beberapa saat lalu, aku mendapat kabar dari Madam Narnia dari Perancis…” ia memberi jeda pada pidatonya.
“Mutan golongan hitam di Eropa atau yang menyebut diri mereka patricians telah memulai melakukan hal-hal buruk setelah delapan tahun kita hidup damai tanpa adanya kabar kebangkitan mutan golongan hitam selama ini. Penglihatan Madam Narnia menunjukkan para patricians telah merekrut mutan-mutan baru dari seluruh dunia untuk bergabung dengan golongan mereka. Oleh karena itu, kita guardians harus mewaspadai hal ini. Beberapa kekacauan akibat ulah patricians mulai terjadi di Eropa. hal ini tidak baik untuk kerahasiaan jenis kita dan tentunya keselamatan umat manusia. Aku sebagai pemimpin Guardian Orde Asia, menugaskan guardian muda di sini untuk mencari dan merekrut mutan baru dari seluruh penjuru dunia. Hal yang sama juga akan dilakukan oleh guardian muda Eropa.
Menurut ramalan Madam Narnia, waktu kita sedikit. Paling lama satu tahun dan paling cepat enam bulan untuk mengumpulkan kekuatan dan melatih kemampuan kita yang telah ada,” Singaraja mengakhiri pidatonya.

Putri Wulansari melanjutkan, “Seperti yang telah kita ketahui, kita masih harus mengumpulkan mutan pengendali bumi. Dan syukurlah kita telah menemukan tiga mutan pengendali 3 elemen penting lainnya, yaitu Mia, pengendali api, Leona, pengendali angin dan Mr. Takeda, pengendali air. Aku, sebagai generasi terakhir dari kerajaan Parahyangan akan memberikan sebagian dari kemampuanku untuk mutan muda yang akan bertugas, agar dapat menyinggahi tempat yang berbeda dalam waktu sekejab. Itulah kemampuanku, world jumping. Ini akan memudahkan kalian menemukan apa yang harus kalian cari. Kami para tetua guardian akan mengawasi dan melindungi kalian dari tempat kami berada.

Kalian akan dibagi menjadi tiga tim yang terdiri dari tiga sampai empat anggota. Setelah kami pertimbangkan, inilah susunan kelompok tim pencari mutan baru:

Tim 1 terdiri dari Mr. Takeda, Mr. Edo dan Chan yang bertugas mencari mutan di Benua Amerika.

Tim 2 beranggotakan Shena, Leona dan Arthur yang bertugas mencari mutan di Benua Eropa.

Tim 3 terdiri dari Grace, Viktor, Mia dan Rio yang bertugas menemukan mutan di Benua Asia.

Dalam usaha kalian menemukan mutan baru, kalian akan dibekali jumping skill dariku yang dapat kalian gunakan dua kali dalam sehari. Gunakan itu untuk berangkat menuju tempat tujuan kalian dan kembali ke tempat asal.

Selama tiga hari dalam satu minggu kalian harus melakukan tugas ini dimulai dari pukul empat sore sampai delapan malam setelah kalian menjalani hidup biasa kalian sebagai pelajar atau pekerja lainnya. Empat hari lainnya pada jam yang sama, kalian pergunakan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan kalian dengan bimbingan dari Tim A.

Adapun tim pengawas dan pelindung adalah:

Tim A yang terdiri dari Pak Ismail sebagai guru Kinesis dan Martial Arts yang akan membantu kalian mengembangkan kemampuan alami kalian dan berlatih bela diri.

Dibantu oleh Ibu Puji sebagai Psikolog Pendamping Mutan yang akan membantu kalian mengenal dan mendalami karakter pribadi kalian masing-masing.

Bu Irma akan mengajarkan kalian Yoga supaya kalian menguasai pengendalian diri dan mencapai kemampuan yang maksimal.

Tim pengawas dan pelindung kedua yaitu Tim B, terdiri dari Singaraja dan saya, Putri Wulansari.

Singaraja akan terus berkomunikasi dan berunding dengan European Guardians. Sedangkan aku, Putri Wulansari akan terus mengembangkan kemampuan world jumpingku agar dapat bekerja lebih baik demi membantu tugas kalian.

Tim C yaitu Rino Marshall, dengan kemampuan photographic memory-nya, Rina Marshall dengan anugerah ilmu fisikanya, dan Danu yang menguasai telekinesis akan mengembangkan strategi pertahanan terbaik untuk melawan Patricians.

Demikian penjelasan dari kami. Jika ada pertanyaan silakan angkat tangan.”

Viktor segera mengangkat tangan pertanda ingin bertanya, “Siapa itu patricians dan seberapa kuat mereka?”

Singaraja memimpali, “Sebelum para mutan berkumpul dan dan menjalin persaudaran puluhan tahun lalu, para mutan sudah terpecah menjadi dua golongan dengan dua tujuan hidup yang berbeda. Golongan putih, atau guardians dan golongan hitam yang menyebut diri mereka patricians. Kedua golongan guardians maupun patricians dahulu mempunyai pemimpin yang sama, Kashioki seorang penguasa empat element, mutan terkuat saat itu. Setelah Kashikoi wafat, Aleron,  mutan penguasa empat elemen lainnya dari Perancis menggantikannya. Namun Aleron merupakan patrician yang tidak menghargai jenis manusia biasa. Sampai akhirnya perang saudara pun pecah selama tujuh tahun sejak lima belas tahun lalu. Banyak patricians dan guardians tewas. Dikabarkan Aleron menderita luka parah dan kehilangan kekuatannya sehingga pada tahun ketujuh, Aleron dan patricians tidak lagi muncul maupun membuat kerusakan di muka bumi.”

“Dan sekarang, mereka muncul kembali?” tanya Mia lirih.

Anjing Mr. Takeda sudah duduk manis di pangkuannya.

BERSAMBUNG……...

You Might Also Like

0 komentar

Can't resist the urge to talk to me? Leave your love letters here... I am kidding :P, but seriously, I want to get in touch with you, so... leave your humble comments here, guys