The Guardians Part 1: Introduction
16.59Hallo.. Ini novel pertamaku. Genrenya fantasi, romance 'n action.Settingnya adalah tahun 20XX di kota Semarang. Dengan tokoh utama Mia Marshall, yang punya keistimewaan yaitu pyrokinesis atau kemampuan mengendalikan panas dan api. Masih banyak lagi karakter-karakter super lainnya.Aku udah nulis novel ini sejak dulu awal-awal kuliah, cuma sering aku ubah isi ceritanya dan belum selesai sampai sekarang.Jadi, mohon dukungannya, ya ^_^. Stay tune!!
Bulan-bulan panas sudah berlalu
sejak dua minggu lalu, hujan turun hampir setiap hari. Tetapi kehangatan selalu
terasa di salah satu kamar tidur di dalam Puri Marshall. Kamar itu sudah
delapan tahun dihuni oleh seorang gadis yang diadopsi oleh pasangan suami istri
Marshall. Gadis spesial yang menyebabkan kamar pribadinya itu selalu hangat. Ia
biasa dipanggil Mia.
Baru setelah alarm handphonenya berdering
untuk ketiga kalinya, ia terbangun, meregangkan badan lalu menguap lebar.
Diraihnya handphone yang masih berdering itu, dimatikannya alarm lalu
dilihatnya jam yang menunjukkan pukul enam pagi kurang lima belas menit. Ia
menaruh kembali handphonenya di atas meja kecil di samping ranjangnya. Mia
berdiri lalu segera masuk ke kamar mandi. Sambil menyikat giginya, Mia menyingkap
sedikit tirai jendela kamar mandinya. Dari atas kamar mandi, ia mengintip
saudara angkatnya yang sedang berlatih bela diri di halaman samping puri bersama
siswa lain di padepokan bela diri milik keluarga angkatnya itu. Tiba-tiba saja
mata kakak angkatnya menatap tajam ke arah tempat Mia sedang menyembunyikan
tubuhnya, Mia segera menutup kembali tirai lalu mengarahkan tangannya ke ujung
shower, sedikit berkonsentrasi dan ajaib! Air keluar dari lubang-lubang shower
tanpa sentuhan tangannya. Mia beranjak mandi pagi.
Selepas mandi, Mia mengenakan
seragam sekolahnya, SMA Praja Bumisakti, sekolah swasta yang disebut-sebut paling
elit di seantero kota Semarang. Seragam SMA Praja Bumisakti menjadi favorit
anak-anak remaja karena keeksklusifan dan kemewahannya. Mia terlihat cantik
mengenakan seragam yang terdiri dari kemeja putih lengan panjang, jas merah
hati dengan kancing berbentuk bunga mawar berwarna emas dengan rompi dan dasi berwarna
senada dengan jasnya di dalamnya, lalu rok lipit merah hati lima belas sentimeter di atas
lutut. Mia memadukan seragamnya dengan sepatu sneakers hi-top warna hitam bertali
merah hati, kaos kaki hitam yang ia kenakan memanjang sampai sepuluh sentimeter
di atas lutut, terakhir, coat tebal berwarna merah hati dengan kancing yang serupa
dengan kancing jas sekolahnya, inilah seragam musim penghujan resmi SMA Praja Bumisakti.
Itulah gaya berseragam sebagian besar siswi SMA Praja Bumisakti, meskipun
peraturan sekolah melarang siswinya memakai rok di atas lutut.
Sebelum meninggalkan kamarnya,
Mia meredakan hawa hangat di kamarnya dengan mengarahkan tangannya ke sudut-sudut
kamarnya, hawa hangat di ruangan itu pun segera merasuk ke dalam tubuhnya
melalui telapak tangannya. Mia turun menuju lantai bawah untuk menyusul
keluarganya makan pagi.
“Mia, bagaimana perkembangan
kekuatan apimu?” tanya mama angkatnya membuka percakapan saat sarapan pagi itu.
“Mulai sekarang Mia nggak butuh
penghangat ruangan lagi untuk kamar Mia, Mia bisa mengeluarkan hawa panas lalu
menyebarkannya ke seisi kamar Mia. Panas tersebut bisa Mia matikan dengan menyerapnya
kembali, begitu Ma,” jelas Mia panjang lebar.
“Hmm, perkembangan yang pesat
mengingat dua minggu lalu kamu hampir membakar dapur karena api yang kamu keluarkan
terlalu besar,” puji Mama sambil mengingatkannya akan insiden dua minggu lalu saat
Mia ingin membantu pembantunya memasak di dapur.
“Yang terpenting kamu kembangkan
kekuatan mengendalikan api dan panas yang kamu keluarkan itu. Bukan
mengembangkan seberapa besar api yang bisa kamu keluarkan. Kekuatan mengendalikan
api memang yang tersulit di antara semuanya,” Papa menimpali. “Lalu, kamu
Viktor, ada yang mau kamu sampaikan?” kini giliran kakak angkat Mia yang
ditanyai. Satu-satunya anak kandung yang dimiliki keluarga Marshall.
“Aku udah bisa terbang tanpa menelantangkan tanganku. Aku juga bisa
terbang dengan berbagai posisi dan bergerak bebas di udara,” jawab Viktor
datar. Walaupun usianya baru menginjak 18 tahun, dua tahun lebih tua di atas
Mia, pemikiran dan sikap Viktor terlihat lebih dewasa.
“Bagus
sekali. Semakin dewasa, kalian harus semakin memahami kekuatan kalian sendiri
sehingga lebih mudah kalian mengembangkannya,” puji Papa, biasanya beliau jarang
sekali memberikan pujian.
Perjalanan menuju sekolah cukup Mia
dan Viktor tempuh dengan berjalan kaki karena letaknya yang tak terlalu jauh.
Walaupun berangkat sekolah bersama-sama, Mia dan Viktor tidak pernah berjalan
berdampingan, biasanya Mia akan berjalan sepuluh meter di belakang Viktor. Tidak
ada yang keberatan. Meskipun sudah delapan tahun hidup bersama, Mia dan Viktor
sama sekali tidak bisa disebut akrab.
Baru saja sampai di depan pintu gerbang sekolah, Viktor langsung disambut oleh Putri, teman
sekelasnya yang disebut-sebut sebagai pacarnya Viktor. Mia menghentikan langkahnya,
mengamati tingkah laku Putri yang bergelayut manja di lengan Viktor. Viktor tidak
menyambut kemanjaan Putri tetapi ia juga tidak menolaknya. Mereka berjalan
bersama masuk ke area sekolah. Pemandangan serupa yang setiap hari
disaksikannya itu selalu membuat hati Mia panas, Mia yang sudah delapan tahun
hidup sebagai adik angkat Viktor tidak pernah berlaku manja ataupun dimanjakan
seperti itu. Mia selalu sungkan untuk mendekati Viktor yang selalu bersikap
dingin dan tidak bisa ditebak.
Pernah sekali waktu keluarga
Marshall bertamasya ke gunung Tangkuban
Perahu, tepatnya lima tahun lalu. Setelah puas menikmati pemandangan kawah
gunung. Mia dan Viktor dibiarkan bermain di arena outbound tidak jauh dari
penginapan. Waktu itu kedua orang tua mereka memilih untuk berendam di kolam
air panas di penginapan. Dari mulai mendaki jaring tambang yang tinggi, flying fox,
meniti seutas tali sampai bersepeda menyusuri kebun teh yang terjal dilakoni
Mia dan Viktor. Tidak ada yang meragukan rasa haus kedua kakak beradik tidak
sedarah itu terhadap tantangan.
Mia dan Viktor bersepeda sendiri-sendiri
menyusuri jalanan sempit dan berkerikil sepanjang kebun teh. Demi menghindari
seekor tupai yang melintas, Mia jatuh terjerembab
dari atas sepedanya. Badannya luka-luka, tergores, parahnya kepalanya terantuk
bebatuan. Mia jatuh pingsan. Ketika sadar, Mia sudah berada di kamar penginapan
dengan beberapa balutan di tubuh dan kepalanya. Mama bilang bahwa Viktor yang
membawanya pulang ke penginapan dengan menerbangkannya, padahal waktu itu Viktor
belum cukup dewasa untuk membawa beban berat. Alhasil Viktor juga jatuh sakit
karena tenaganya terkuras habis. Sejak itu Mia yakin bahwa Viktor sebenarnya
baik dan penuh perhatian, tapi mungkin karena sesuatu hal, Viktor lebih sering
acuh tak acuh pada semua orang.
“Dor!” dari arah belakang,
seseorang menepuk pundak Mia. Ternyata itu Shasha, sahabat Mia sejak kecil yang
juga merupakan anak dari sahabat ayah ibu angkatnya, Om Danu dan tante Irma.
“Nggak kaget,” sergah Mia bete
lalu berjalan mendahului Sasha.
“Pagi-pagi udah cemberut aja, lo!
Kenapa? Cemburu sama kakak lo sendiri?” tebak Sasha.
“Sotoy ah,” Mia mempercepat
langkahnya.
“Lo musti periksa kejiwaan tuh.
Masa naksir kakak sendiri, haha,” seru Sasha.
“Elo yang musti periksa kejiwaan,
masa tiang bendera lo pacarin,” balas Mia sambil menjulurkan lidahnya.
“Ebuset, sekate-kate lo bilang
cowok gue tiang bendera,” Sasha mengejar Mia yang mulai berlari kecil.
Sejak jam pelajaran dimulai, Mia
tidak juga berkonsentrasi. Pikirannya melayang memikirkan perkataan sahabatnya
pagi ini. Masa ia naksir kakaknya sendiri, sih? Apa mungkin? Melihat Viktor
berdekatan dengan Putri memang membuatnya sedikit sebal. Diam-diam Mia juga sering
mengawasi kakaknya. Tidak mungkin itu pertanda suka, kan?
“Tapi, kami kan nggak ada hubungan darah, boleh aja kan pacaran?” batin
Mia, “Hah, pikiran macam apa ini?” segera Mia
buang jauh-jauh pikiran konyolnya. Digeleng-gelengkannya kepalanya.
“Plak!” seseorang menepuk kepalanya.
“Apa-ap—“ Umpatan Mia tercekat. Ternyata
Mr. Arinto yang memukul kepalanya. Guru bahasa Inggris killer yang merupakan
anggota Tim Pengawas dan Penertiban Siswa itu sudah berdiri di samping bangku Mia.
Sejak kapan Mr. Arinto datang?
“Stand up, Girl!” perintah Mr.
Arinto.
Ternyata semua teman-teman
sekelas Mia sudah berdiri dari tempat duduknya. Ini berarti sebuah inspeksi
mendadak.
Benar
saja. Mia dihukum karena melanggar 3 peraturan sekolah sekaligus, pertama,
memakai rok yang terlalu pendek, kaos kali terlalu panjang dan berwarna selain
putih.
“Lagi-lagi Mbak Mia, kena
hukuman, hehehe...” kekeh Pak Ma’il, petugas kebersihan sekolah sambil
menyerahkan ember dan pel bergagang kepada Mia dan tiga siswa pelanggar aturan
lainnya.
“Sengaja kok, pengen bantu Pak Ma’il
bersih-bersih sekolah,” canda Mia sedikit kesal sambil berlalu menuju keran air
untuk mengisi ember.
Mia merasa kedinginan karena kaos
kakinya yg tidak sesuai aturan sekolah itu sudah dilepas, sedangkan ia tidak
bisa menggunakan kekuatannya untuk menghangatkan tubuhnya di sekolah, kalau
tidak mau ketahuan. Ditambah lagi tiba-tiba hujan turun pagi itu sehingga udara
makin dingin.
Baru beberapa blok Mia dan tiga
teman senasibnya itu mengepel koridor sekolah, bel istirahat pertama berdering.
Berhamburlah siswa-siswi keluar dari kelasnya, membuat usaha Mia mengepel
sia-sia karena lantai yang masih basah kembali kotor oleh jejak-jejak sepatu.
“Gimana ini? Udah capek-capek
ngepel kok dikotorin lagi,” keluh Laura, anak kelas X-B yang tidak begitu Mia
kenal. Ia dihukum karena lupa mengenakan dasi.
“Kita tunggu sampai istirahat
selesai aja yuk. Gue laper. Kita ke kantin, habis itu, balik lagi ngepel,” usul
Haris, siswa kelas XII yang dihukum karena memakai sepatu berwarna putih dan
tidak mengenakan rompi.
“Habis jam istirahat aku harus ulangan
Fisika,” sahut Tita, anak kelas XI yang dihukum karena mengenakan rok yang
kependekan.
“Ya udah, yang udah dipel, nggak usah
dipel lagi. Kalau kotor lagi kan bukan salah kita,” usul Mia.
“Benar, ayo kita selesaikan
sebelum jam istirahat habis,” Tita setuju.
“Kalau gitu kalian yang selesaikan,
gue mau ke kantin dulu dah, okey,” dengan seenaknya Haris meninggalkan mereka menuju
kantin sekolah.
“Hah, enak banget si Haris itu,”
gerutu Tita.
“Kan masih banyak yang harus kita
pel. Nggak adil,” keluh Laura.
Mia pun merasa Haris ini tidak
setia kawan. Sementara itu lewatlah rombongan
genk Putri.
“Lho, Mia, ngapain di sini?”
tanya Putri ramah sambil melirik tongkat pel yang sedang dipegang Mia, kemudian
berganti melirik kelengkapan seragam Mia. “Pakai rok sependek itu dan nggak
pakai kaos kaki, apa nggak dingin?” tanyanya lagi. “Sebenarnya pengen bantu.
Tapi kalau Pak Guru tahu, nanti kita dimarahin. Semangat yah ngepelnya, hihihi,”
sambil begitu Putri berlalu, disusul dengan teman-temannya yang tertawa
tertahan melihat Mia.
“Hisssh. Sebel…!” gerutu Mia
begitu genk Putri sudah berlalu. Cepat-cepat Mia menyelesaikan tugasnya.
Karena mengepel sambil tidak
memperhatikan lantai yang dipelnya, tahu-tahu, kain pel Mia menyangkut di
sepatu seseorang di depannya. Mia mendongakkan kepala. Viktor! Viktor
mengernyitkan kepalanya.
“Handphone-mu dimana?” tanyanya.
“Eh, HP?” Mia meraba saku jasnya,
tidak ada. “Oh, di tas.” Buru-buru ia mengimbuhi, “di kelas..”
“Gue tadi SMS,” kata Kak Viktor.
“Ada apa?” tanya Mia gugup.
Viktor membawa Mia agak menjauh
dari teman-teman seperjuangannya mengepel, “Mama dan Papa baru aja ke Bandung.
Nanti sepulang sekolah kita nyusul mereka. Jadi nanti lo langsung pulang, kalau
ada acara, dibatalin dulu.”
“Hah, kok mendadak amat?” Mia keheranan.
Tidak pernah dengar rencana keluarga akan ke Bandung, tiba-tiba harus menyusul
orang tua ke Bandung sepulang sekolah.
“Itu aja. Selesaikan hukumanmu,
lalu hangatkan kakimu sebentar di tempat yang tidak ada orang lain tahu,”
Viktor
berlalu.
Mia menjadi lebih bersemangat
melanjutkan hukumannya. Entah karena kakinya semakin dingin, jam istirahat yang
segera habis, atau karena ingin buru-buru melakukan saran Kakak angkatnya yang
tumben perhatian dengan kakinya yang kedinginan. Tapi pertanyaan tentang
rencana ke Bandung belum terjawab.
“Ada apa kami harus ke Bandung?”
BERSAMBUNG………
2 komentar
Good one, more new creatures please :p
BalasHapusMakasih Fi :)
BalasHapusnew creatures itu mksdnya tokohnya atau chapternya novel?? Hehe...
Can't resist the urge to talk to me? Leave your love letters here... I am kidding :P, but seriously, I want to get in touch with you, so... leave your humble comments here, guys