My Novel

The Guardians Part 2: The Guardians

12.41

Yang unik di sini, beberapa nama guru aku ambil dari nama guru-guruku sewaktu sekolah. Guru yang aku maksud mempunyai kesamaan karakter atau background dengan tokoh di The Guardians. Memikirnya membuatku tertawa sendiri. Karena selain guru yang menginspirasi, guru yang menyebalkan pun aku pakai  namanya di sini. Hehe... Di bagian kedua ini, banyak penjelasan tentang siapa itu Mia dan keluarganya, dan banyak lagi.. Happy reading, happy fantasying! ^__^

Ternyata tidak hanya Mia dan Viktor yang berangkat menuju Bandung malam itu. Ada pula Sasha, sahabat Mia, beberapa murid dan guru di Padepokan Marshall, diantaranya Shena yang mampu membaca gejala alam, Rio yang mahir dalam bela diri, dan Guru Kinesis dan Martial Arts, Pak Ismail, seorang Psikolog pendamping Mutan, Bu Puji, dan seorang Cryptozoologist muda, atau ahli makhluk hidup cryptid yang belum dikenal sains, Mr. Edo Vesper yang sering berkunjung ke Puri Marshall. Kedelapan orang tersebut berangkat ke Bandung dengan menumpang kereta kelas eksekutif malam itu juga.

Selama sepuluh jam perjalanan darat itu, Mia menahan diri untuk tidak menanyakan kepada lainnya perihal keperluan mereka ke Bandung di dalam gerbong, meskipun ia sangat ingin tahu. Rahasia guardians harus dijaga rapat-rapat. Guardians adalah istilah yang dipakai para mutan seperti Mia dan lainnya untuk membedakan jenis mereka dari manusia biasa.

Mia sendiri tidak begitu mengerti awal mula dan seluk beluk guardians. Ingatannya hanya terbatas saat pertama kali ia tiba di Puri Marshall delapan tahun silam. Mia tidak mempunyai ingatan apapun tentang masa lalu sebelum ia tinggal dengan keluarga Marshall.

Menurut cerita orang tua angkatnya, Mia adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan di kota kecil sebelah selatan dari kota Semarang. Pada awal Mia memulai hidupnya setelah ingatannya hilang, ia menimbulkan banyak masalah berkaitan dengan bakatnya sebagai pengendali api sehingga ia harus ditempatkan dalam ruang isolasi di ruang bawah tanah Puri Marshall. Emosinya yang tidak terkontrol dapat menyebabkan benda-benda disekitarnya terbakar bahkan hangus seketika. Namun lama kelamaan, dengan bantuan Bu Puji, Psikolog Pendamping Mutan di padepokan Marshall dan Tante Irma, Ibu dari Sasha yang seorang instruktur Yoga, Mia perlahan dapat mengontrol kemampuannya.

Mengingat kejadian delapan tahun silam membuat Mia bergidik, ia pernah hampir membakar pembantu keluarga Marshall, Mbok Lia yang biasa membersihkan dan merapikan ruang isolasinya. Dua minggu lalu pun Mia kembali hampir membakar dapur dan wanita tua berusia tujuh puluh satu tahun itu ketika Mia ingin membantunya menyalakan api kompor dengan caranya sendiri.

“Dor!” Sasha yang duduk di sampingnya membuyarkan lamunan Mia, “Miss Daydreamer! Melamun aja kerjaan lo!” seru Sasha.

“Ngagetin aja kerjaan, lo!” sungut Mia.

“Lah dipanggil-panggil nggak nyalak-nyalak juga ya gue kagetin aje,” Sasha beralasan.

“Lo kira gue anjing, nyalak-nyalak, huh.”

“Hahaha.. Udah tukang ngelamun, ngambekan lagi. Lama-lama gue kuncir juga bibir lo yang manyun melulu,” seloroh Sasha.

“Habisnya bingung mau ngapain. Mana masih lama lagi nyampenya.”

“Daripada ngelamun, coba lo angetin kaki gue, dingin nih AC-nya,” bisik Sasha pelan, takut suaranya terdengar orang lain.

“Serius lo? Gue nggak tanggung jawab kalau jadinya kaki lo malah gosong, ya?”

“Eh, jangan lah. Mentang-mentang mulusan kaki gue, lo sirik, mau bakar aja.”

“Nah elo, udah tau dingin, pake celana pendek. Mau pamer ke siapa juga, orang gelap gini.”

“Iya, iya. Bawel ah. Eh coba lo lihat nih. Pengunjung Web gue udah mencapai lima juta view!” seru Sasha bangga sambil menunjukkan layar Ipadnya pada Mia.

Mia melirik Ipad Sasha, “Lo nyedian tips-tips hacking? Serius lo?”

“Haha… awalnya tips gue berhasil mereka praktekkin. Tapi mereka nggak tahu kalau dengan jalanin tips gue, data-data di komputer mereka jadi bisa gue akses semua. Hihihi…”

“Elo ini, emang pinter Sha. Tapi sifat jahat lo udah mendarah daging. Ga ketolong,” Mia kagum dengan sahabatnya ini.

“Habisnya… Ngapain juga orang pengen hack akun Facebook atau Twitter orang lain? Ini konsekuensi dari niat buruk mereka sejak awal. Mereka dapat ilmu hacking-nya tapi komputer mereka sendiri jadi kena hack gue. Hehehe…”

“Elo ah. Jadi bikin gue takut berteman sama elo. Jangan-jangan elo suka hack komputer gue,” curiga Mia.

“Ah, elo, nyentuh komputer aja seabad sekali. Apa yang bisa gue hack… haha,” Sasha tertawa kecil.

Tiba-tiba Mia memikirkan suatu ide, “Eh, Sha. Elo kan sohib gue. Kita udah kayak  sister gitu kan. Gue minta tolong, dong…”

“Jangan bilang elo minta gue hack komputer Kakak elo,” tebak Sasha.

“Hehehe..” Mia meringis. Sahabatnya ini selalu tahu isi pikirannya.

“Elo sama aja kayak visitors situs gue yang kepo-an. Ogah,” tolak Sasha mentah-mentah.

“Ah, nggak setia kawan lo,” gerutu Mia.

Tidak memperdulikan gerutuan Mia, Sasha kembali asik dengan Ipadnya lalu memasang earphone di kedua telinganya.

Sementara itu seorang pramugari kereta api datang dengan kereta dorong berisi selimut-selimut tebal lalu membagikannya kepada para penumpang.

“Oh, thanks, God! Dingin banget!” seru Sasha girang sambil menerima selimut yang diulurkan si pramugari kereta api.
***
Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Itu berarti masih lima jam perjalanan lagi untuk mencapai Bandung. Sasha yang duduk di samping Mia mendengkur halus sambil menyandarkan kepalanya pada bantal kecil yang disediakan oleh penyedia layanan kereta api eksekutif itu.

Mia penasaran dengan yang lainnya. Apakah mereka semua juga sudah tertidur? Sesekali terdengar bisik-bisik kecil di dalam gerbong itu. Karena hari itu weekend, Kebanyakan penumpang di gerbong tersebut adalah para mahasiswa.

“Fotia… Fotia…” tiba-tiba sayup-sayup Mia mendengar suara mendesis yang entah darimana asalnya.

Berkali-kali suara itu mengucap kata yang sama fotia.. fotia.. yang Mia sendiri tak mengerti artinya. Mungkin itu nama salah satu penumpang di sini? Penerangan dalam kereta yang remang membatasi pandangan Mia yang ingin tahu siapa si penganggu yang tengah malam begini memanggil orang dengan suara mendesis yang cukup seram, menurutnya. Kenapa juga orang yang bernama Fotia tidak menyahut panggilannya, pikir Mia.

Pukul lima pagi Mia dan rombongannya tiba di Stasiun Bandung. Dua unit mobil menjemput kedatangan mereka. Semalaman tidur Mia terganggu karena mendengar suara aneh yang menyuarakan nama Fotia hingga fajar. Ia pun tertidur di dalam mobil penjemputnya.

Ketika Mia dibangunkan, mobil telah berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua yang terletak di tengah kebun sayur mayur di perbukitan yang terhampar luas. Mama Mia sudah menunggu kedatangan mereka di depan rumah tersebut.

Mia, Sasha, dan Shena ditempatkan di kamar tidur yang sama di lantai dua rumah itu. Ternyata sudah ada seorang anak perempuan lain yang menempati tempat itu.

“Hallo, Grace. Ini anak tante, Mia. Kalau ini, Sasha dan Shena,” Mama Mia memperkenalkan tamu baru di rumah itu kepada perempuan berwajah caucasian yang kelihatannya masih sebaya dengan Mia itu.

Grace yang memakai gaun putih sepanjang lutut dengan sepatu dan stoking berwanra senada itu tidak beranjak dari duduknya di atas ranjang. Ia hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Mia, Sasha, Shena, ini Grace dari Perancis. Tapi tenang saja, Grace bisa berbahasa Indonesia. Malam ini kalian berempat akan berbagi tempat tidur. Sekarang bereskan barang-barang kalian dan mandi. Jam 7 kita sarapan di ruang makan lantai satu. Biar Grace yang menunjukkannya pada kalian nanti,” terang Mama Mia. “Tante tinggalkan kalian dulu, ya,” Mama Mia berlalu dari ruangan itu.

Kamar berukuran 5x10 meter itu memiliki dua tempat tidur king size, meja kecil di sisi kiri dan kanan ranjang, sebuah meja rias di antara kedua tempat tidur, lemari pakaian yang cukup besar di seberang kanan tempat  tidur, dan kamar mandi di sisi kiri ruangan.

Berapa malam mereka akan singgah di rumah ini? Mereka hanya diberitahu agar berangkat ke Bandung dengan kereta malam itu, membawa pakaian dan perlengkapan secukupnya. Tanpa tahu keperluan apa yang akan mereka lakukan di Bandung, di rumah ini.

“Emm, Grace. Kamu udah sejak kapan tiba di sini?” tanya Sasha ragu melihat Grace yang tidak bergeming dari tempat duduknya dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak kedatangan mereka. Apa benar cewek Indo ini mengerti bahasa Indonesia?

“Dua hari lalu,” jawab Grace singkat. “Kalian sebaiknya cepat mandi, satu jam lagi kita sarapan,” tutur Grace dalam bahasa Indonesia yang lancar dan fasih sambil meraih sisir di meja samping tempat tidurnya. Ia mulai menyisir rambut pirangnya yang panjang.

“Kalau gitu gue duluan ya. Udah kebelet B-A-B dari tadi,” cetus Shena si tomboy bertubuh mungil.

“Elo makan terus tapi badan segitu-segitu aja, Shen. Usus lo lurus kali, begitu masuk, langsung lo keluarin, haha…” seloroh Sasha sambil menyeret kopernya ke arah lemari pakaian. Mia melakukan hal yang sama.

“Sebenarnya, kita disuruh kemari untuk apa, sih? Grace, kamu tahu nggak?” tanya Sasha sambil memindahkan pakaiannya ke dalam lemari pakaian.

Well, setahuku, para guardian dewasa akan mengajak kita ikut rapat mengenai jenis kita,” jawab Grace tenang.

“Rapat?” ulang Mia. Mia memang mengetahui para guardian dewasa seperti kedua orang tuanya selalu mengadakan rapat berkala, tapi baru kali ini guardian muda seperti dia diikutsertakan.

“Kalian tahu, mau  tidak mau, kita pasti menghadapi ancaman dari golongan hitam. Dan itu tidak lama lagi, menurut Madam Narnia,” jawab Grace kalem sambil mulai mengepang rambutnya menjadi dua.

“Golongan hitam? Ancaman? Ancaman apa? Siapa Madam Narni?” Mia memberondongkan pertanyaan.

“Madam Narnia itu guardian peramal yang tinggal di Perancis,” sahut Sasha. Ternyata sahabatnya itu lebih tahu banyak tentang guardian daripada Mia sendiri.

“Guys, kalian tahu kan, tidak semua mutan seperti kita? Mutan golongan putih, The Guardians,” Grace heran dengan pertanyaan Mia.

“Aku cuma dengar sedikit penjelasan itu dari Mama waktu dulu,” Mia mencoba mengingat cerita yang pernah Mama angkatnya ceritakan padanya bertahun-tahun lalu. “Ada mutan putih dan hitam…. Benarkah ada ancaman dari mereka? Seberapa besar ancaman itu?” tanya Mia lagi.

“Sebesar… well, kita The Guardians juga besar kan? Mungkin sebesar kita. Atau bisa lebih besar lagi. Entahlah. Aku sendiri belum tahu banyak. Tahu-tahu sudah ditugaskan ke tempat ini oleh Sir August— pemimpin European Guardians, kalau kalian belum tahu,” jelas Grace. “Ngomong-ngomong, apa skill kalian? Seperti kalian lihat sendiri, aku bisa berbicara dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa kuno dan menerjemahkan simbol. AKu juga bisa memecahkan kode.”

“Aku pengendali api, Sasha peretas komputer, dan Shena pembaca gejala alam,” terang Mia.

“Kamu bilang kamu pengendali api?” tanya Grace memastikan.

“Ya. Pyrokinesis, tapi aku masih belajar,” imbuh Mia.

“Mereka sangat langka,” ucap Grace sambil menerawang. “Hmm… Peretas komputer? Apakah itu termasuk salah satu jenis mutan?” tanya Grace ragu.

“Secara langsung memang aku bukan mutan. Papaku yang seorang mutan, ia bisa telekinesis, sedangkan ibuku instruktur yoga,” tutur Sasha.

“Oh begitu. Di Asia, bahkan bukan mutanpun boleh bergabung dengan kelompok mutan yah…” Grace mengungkapkan kekecewaannya. Hal ini sedikit mengusik Sasha. Membuatnya merasa tidak diterima oleh guardian yang baru dikenalnya itu. “Aku dengar ada dari kalian yang bisa terbang?” tanya Grace.

“Itu kakakku, Viktor,” jawab Mia. “Sasha ini walaupun bukan guardian tapi dia banyak membantu kami dalam mengembangkan kekuatan dan perisai kami. Jadi dia nggak bisa diremehkan,” imbuh Mia ingin membela sahabatnya.

“Oh ya. Viktor. Aku penasaran dengannya. Dia cukup terkenal di kalangan European Guardians,” tutur Grace tidak memperdulikan penjelasan Mia tentang peran Sasha.

“Wah benarkah? Dia emang cakep sih. Cool pula. Tapi kelihatannya nggak tertarik sama cewek manapun. Karena dia itu pengidap Sister Complex. Dia maunya cuma sama Mia, hihihi,” sahut Sasha, berganti membela sahabatnya yang wajahnya mulai berubah menjadi masam mendengar Grace yang antusias membicarakan Viktor.

Sister complex? Menarik juga,” ucap Grace merasa tertantang.

“Guys, gue udah selesai, giliran siapa nih?” Shena sudah keluar dari kamar mandi berbalut handuk.

“Gue dulu,” Mia buru-buru menyerobot masuk kamar mandi sebelum Sasha sempat bangkit dari tempatnya.

Sambil menyiram tubuhnya, Mia menggerutu dalam hati.

“Terkenal di kalangan guardian Eropa? Huh. Aku malah baru tahu kalau guardian nggak cuma ada di Indonesia. Grace pasti naksir Kak Viktor. Grace cantik, bule, pinter ngomong segala bahasa pula, bisa mecahin kode-kode, bisa mecahin biji kenari juga, mungkin, atau mecahin batu kali.” Sungut Mia dalam hati.
“Kak Viktor cakep, berbakat, cool, dan terkenal. Huh… setidaknya ada cewek yang lebih baik dari Kak Putri yang naksir dia. Tapi… Kalau Grace beneran naksir Kak Viktor, gimana? Nggak mungkin Kak Viktor nggak tertarik dengan cewek semacam Grace. Ah.. Apaan sih? Kenapa jadi kesel gini? Apa benar aku naksir Kak Viktor? Atau ini cuma perasaan cemburu alami seorang adik?” Mia bertengkar dengan dirinya sendiri.

Karena kesal, tidak sengaja Mia melelehkan botol sabun yang sedang dipegangnya. Ya ampun…

***

Ternyata peserta sarapan pagi itu jauh lebih banyak dari perkiraan Mia. Sembilan belas orang duduk mengelilingi meja makan yang memanjang itu. Di ujung kiri meja, duduk seorang kakek tua gendut berpakaian adat sunda yang merupakan pemilik rumah bernama Singaraja. Di seberangnya, di ujung kanan meja, seorang wanita tua kurus berpakaian adat sunda duduk dengan anggun.

“Mungkin mereka suami istri,” Tebak Mia dalam hati.

Wanita itu memperkenalkan diri sebagai Putri Wulansari, generasi terakhir keluarga kerajaan Parahyangan.

Mia teringat kembali sebuah cerita rakyat tentang kerajaan Parahyangan yang pernah di dengarnya ketika SD. Parahyangan merupakan kerajaan yang konon pernah berjaya di masa lalu namun tak pernah ditemukan artefak-artefak peninggalannya, jadi keberadaannya masih dipertanyakan oleh para arkeolog dan sejarawan.

“Jadi, memang benar kerajaan Parahyangan itu pernah ada,” pikir Mia.

Di samping kiri Putri Wulansari, duduk Mama angkat Mia, disusul tante Irma, Bu Puji, Sasha, Mia, Shena, Grace, dan seorang wanita Eropa lain berusia kira-kira tiga puluh tahun bernama Leona yang datang bersama Grace dan pria bernama Arthur yang seusia dengannya, pria Eropa satu-satunya di meja makan itu. Kelihatannya mereka berdua sepasang kekasih.

Leona mempunyai keahlian mengendalikan udara, sedangkan Arthur dapat membaca pikiran orang lain dengan menyentuh tangan mereka.

Di meja seberang tempat duduk Mia, dari sebelah kiri tempat duduk Singaraja duduk Papa angkat Mia, disusul oleh Om Danu yang merupakan Pembina Padepokan Marshall, Pak Ismail, Mr. Edo, Arthur, Viktor, Rio dan dua orang dewasa asing lain.

Pria yang duduk tepat di sebelah kiri Rio bernama Mr. Takeda, pengendali air dari Jepang yang menurut pengakuannya ia berusia 35 tahun. Bersamanya, Mr. Takeda membawa seekor binatang peliharaan sejenis anjing kecil berwarna pink muda, namun anjing itu dapat melayang-layang dengan sayap kecil di punggungnya. Begitu melihat Mia, anjing itu menyahut gembira berseru “krrrr…..krrr….” dan mengibas-kibaskan ekornya di udara dengan riang.

Pria lainnya bernama Chan, yang mendapat julukan Iceman yang berusia 24 tahun, berasal dari China Utara. Chan dapat bertahan terhadap terpaan hawa dingin. Keunikannya ini terlanjur diketahui masyarakat China dan seluruh dunia. Tetapi rahasia tentang mutan dan Guardians tetap ia jaga.

“Pertemuan kita pagi ini merupakan bagian dari pertemuan guardians di seluruh dunia,” setelah acara sarapan pagi selesai dan perlengkapan dibereskan, Singaraja membuka rapat pagi itu di meja yang sama.

Tahu-tahu anjing terbang milik Mr. Takeda melayang mendekati Mia. Setelah mencapainya, anjing itu mengibas-kibaskan ekornya pada leher Mia, membuatnya kegelian.

“Beberapa saat lalu, aku mendapat kabar dari Madam Narnia dari Perancis…” ia memberi jeda pada pidatonya.
“Mutan golongan hitam di Eropa atau yang menyebut diri mereka patricians telah memulai melakukan hal-hal buruk setelah delapan tahun kita hidup damai tanpa adanya kabar kebangkitan mutan golongan hitam selama ini. Penglihatan Madam Narnia menunjukkan para patricians telah merekrut mutan-mutan baru dari seluruh dunia untuk bergabung dengan golongan mereka. Oleh karena itu, kita guardians harus mewaspadai hal ini. Beberapa kekacauan akibat ulah patricians mulai terjadi di Eropa. hal ini tidak baik untuk kerahasiaan jenis kita dan tentunya keselamatan umat manusia. Aku sebagai pemimpin Guardian Orde Asia, menugaskan guardian muda di sini untuk mencari dan merekrut mutan baru dari seluruh penjuru dunia. Hal yang sama juga akan dilakukan oleh guardian muda Eropa.
Menurut ramalan Madam Narnia, waktu kita sedikit. Paling lama satu tahun dan paling cepat enam bulan untuk mengumpulkan kekuatan dan melatih kemampuan kita yang telah ada,” Singaraja mengakhiri pidatonya.

Putri Wulansari melanjutkan, “Seperti yang telah kita ketahui, kita masih harus mengumpulkan mutan pengendali bumi. Dan syukurlah kita telah menemukan tiga mutan pengendali 3 elemen penting lainnya, yaitu Mia, pengendali api, Leona, pengendali angin dan Mr. Takeda, pengendali air. Aku, sebagai generasi terakhir dari kerajaan Parahyangan akan memberikan sebagian dari kemampuanku untuk mutan muda yang akan bertugas, agar dapat menyinggahi tempat yang berbeda dalam waktu sekejab. Itulah kemampuanku, world jumping. Ini akan memudahkan kalian menemukan apa yang harus kalian cari. Kami para tetua guardian akan mengawasi dan melindungi kalian dari tempat kami berada.

Kalian akan dibagi menjadi tiga tim yang terdiri dari tiga sampai empat anggota. Setelah kami pertimbangkan, inilah susunan kelompok tim pencari mutan baru:

Tim 1 terdiri dari Mr. Takeda, Mr. Edo dan Chan yang bertugas mencari mutan di Benua Amerika.

Tim 2 beranggotakan Shena, Leona dan Arthur yang bertugas mencari mutan di Benua Eropa.

Tim 3 terdiri dari Grace, Viktor, Mia dan Rio yang bertugas menemukan mutan di Benua Asia.

Dalam usaha kalian menemukan mutan baru, kalian akan dibekali jumping skill dariku yang dapat kalian gunakan dua kali dalam sehari. Gunakan itu untuk berangkat menuju tempat tujuan kalian dan kembali ke tempat asal.

Selama tiga hari dalam satu minggu kalian harus melakukan tugas ini dimulai dari pukul empat sore sampai delapan malam setelah kalian menjalani hidup biasa kalian sebagai pelajar atau pekerja lainnya. Empat hari lainnya pada jam yang sama, kalian pergunakan untuk melatih dan mengembangkan kemampuan kalian dengan bimbingan dari Tim A.

Adapun tim pengawas dan pelindung adalah:

Tim A yang terdiri dari Pak Ismail sebagai guru Kinesis dan Martial Arts yang akan membantu kalian mengembangkan kemampuan alami kalian dan berlatih bela diri.

Dibantu oleh Ibu Puji sebagai Psikolog Pendamping Mutan yang akan membantu kalian mengenal dan mendalami karakter pribadi kalian masing-masing.

Bu Irma akan mengajarkan kalian Yoga supaya kalian menguasai pengendalian diri dan mencapai kemampuan yang maksimal.

Tim pengawas dan pelindung kedua yaitu Tim B, terdiri dari Singaraja dan saya, Putri Wulansari.

Singaraja akan terus berkomunikasi dan berunding dengan European Guardians. Sedangkan aku, Putri Wulansari akan terus mengembangkan kemampuan world jumpingku agar dapat bekerja lebih baik demi membantu tugas kalian.

Tim C yaitu Rino Marshall, dengan kemampuan photographic memory-nya, Rina Marshall dengan anugerah ilmu fisikanya, dan Danu yang menguasai telekinesis akan mengembangkan strategi pertahanan terbaik untuk melawan Patricians.

Demikian penjelasan dari kami. Jika ada pertanyaan silakan angkat tangan.”

Viktor segera mengangkat tangan pertanda ingin bertanya, “Siapa itu patricians dan seberapa kuat mereka?”

Singaraja memimpali, “Sebelum para mutan berkumpul dan dan menjalin persaudaran puluhan tahun lalu, para mutan sudah terpecah menjadi dua golongan dengan dua tujuan hidup yang berbeda. Golongan putih, atau guardians dan golongan hitam yang menyebut diri mereka patricians. Kedua golongan guardians maupun patricians dahulu mempunyai pemimpin yang sama, Kashioki seorang penguasa empat element, mutan terkuat saat itu. Setelah Kashikoi wafat, Aleron,  mutan penguasa empat elemen lainnya dari Perancis menggantikannya. Namun Aleron merupakan patrician yang tidak menghargai jenis manusia biasa. Sampai akhirnya perang saudara pun pecah selama tujuh tahun sejak lima belas tahun lalu. Banyak patricians dan guardians tewas. Dikabarkan Aleron menderita luka parah dan kehilangan kekuatannya sehingga pada tahun ketujuh, Aleron dan patricians tidak lagi muncul maupun membuat kerusakan di muka bumi.”

“Dan sekarang, mereka muncul kembali?” tanya Mia lirih.

Anjing Mr. Takeda sudah duduk manis di pangkuannya.

BERSAMBUNG……...

My Novel

The Guardians Part 1: Introduction

16.59

Hallo.. Ini novel pertamaku. Genrenya fantasi, romance 'n action.
Settingnya adalah tahun 20XX di kota Semarang. Dengan tokoh utama Mia Marshall, yang punya keistimewaan yaitu pyrokinesis atau kemampuan mengendalikan panas dan api. Masih banyak lagi karakter-karakter super lainnya.
Aku udah nulis novel ini sejak dulu awal-awal kuliah, cuma sering aku ubah isi ceritanya dan belum selesai sampai sekarang.
Jadi, mohon dukungannya, ya ^_^. Stay tune!!

Bulan-bulan panas sudah berlalu sejak dua minggu lalu, hujan turun hampir setiap hari. Tetapi kehangatan selalu terasa di salah satu kamar tidur di dalam Puri Marshall. Kamar itu sudah delapan tahun dihuni oleh seorang gadis yang diadopsi oleh pasangan suami istri Marshall. Gadis spesial yang menyebabkan kamar pribadinya itu selalu hangat. Ia biasa dipanggil Mia.

Baru setelah alarm handphonenya berdering untuk ketiga kalinya, ia terbangun, meregangkan badan lalu menguap lebar. Diraihnya handphone yang masih berdering itu, dimatikannya alarm lalu dilihatnya jam yang menunjukkan pukul enam pagi kurang lima belas menit. Ia menaruh kembali handphonenya di atas meja kecil di samping ranjangnya. Mia berdiri lalu segera masuk ke kamar mandi. Sambil menyikat giginya, Mia menyingkap sedikit tirai jendela kamar mandinya. Dari atas kamar mandi, ia mengintip saudara angkatnya yang sedang berlatih bela diri di halaman samping puri bersama siswa lain di padepokan bela diri milik keluarga angkatnya itu. Tiba-tiba saja mata kakak angkatnya menatap tajam ke arah tempat Mia sedang menyembunyikan tubuhnya, Mia segera menutup kembali tirai lalu mengarahkan tangannya ke ujung shower, sedikit berkonsentrasi dan ajaib! Air keluar dari lubang-lubang shower tanpa sentuhan tangannya. Mia beranjak mandi pagi.

Selepas mandi, Mia mengenakan seragam sekolahnya, SMA Praja Bumisakti, sekolah swasta yang disebut-sebut paling elit di seantero kota Semarang. Seragam SMA Praja Bumisakti menjadi favorit anak-anak remaja karena keeksklusifan dan kemewahannya. Mia terlihat cantik mengenakan seragam yang terdiri dari kemeja putih lengan panjang, jas merah hati dengan kancing berbentuk bunga mawar berwarna emas dengan rompi dan dasi berwarna senada dengan jasnya di dalamnya, lalu rok lipit merah hati lima belas sentimeter di atas lutut. Mia memadukan seragamnya dengan sepatu sneakers hi-top warna hitam bertali merah hati, kaos kaki hitam yang ia kenakan memanjang sampai sepuluh sentimeter di atas lutut, terakhir, coat tebal berwarna merah hati dengan kancing yang serupa dengan kancing jas sekolahnya, inilah seragam musim penghujan resmi SMA Praja Bumisakti. Itulah gaya berseragam sebagian besar siswi SMA Praja Bumisakti, meskipun peraturan sekolah melarang siswinya memakai rok di atas lutut.

Sebelum meninggalkan kamarnya, Mia meredakan hawa hangat di kamarnya dengan mengarahkan tangannya ke sudut-sudut kamarnya, hawa hangat di ruangan itu pun segera merasuk ke dalam tubuhnya melalui telapak tangannya. Mia turun menuju lantai bawah untuk menyusul keluarganya makan pagi.

“Mia, bagaimana perkembangan kekuatan apimu?” tanya mama angkatnya membuka percakapan saat sarapan pagi itu.

“Mulai sekarang Mia nggak butuh penghangat ruangan lagi untuk kamar Mia, Mia bisa mengeluarkan hawa panas lalu menyebarkannya ke seisi kamar Mia. Panas tersebut bisa Mia matikan dengan menyerapnya kembali, begitu Ma,” jelas Mia panjang lebar.

“Hmm, perkembangan yang pesat mengingat dua minggu lalu kamu hampir membakar dapur karena api yang kamu keluarkan terlalu besar,” puji Mama sambil mengingatkannya akan insiden dua minggu lalu saat Mia ingin membantu pembantunya memasak di dapur.

“Yang terpenting kamu kembangkan kekuatan mengendalikan api dan panas yang kamu keluarkan itu. Bukan mengembangkan seberapa besar api yang bisa kamu keluarkan. Kekuatan mengendalikan api memang yang tersulit di antara semuanya,” Papa menimpali. “Lalu, kamu Viktor, ada yang mau kamu sampaikan?” kini giliran kakak angkat Mia yang ditanyai. Satu-satunya anak kandung yang dimiliki keluarga Marshall.

“Aku udah bisa terbang  tanpa menelantangkan tanganku. Aku juga bisa terbang dengan berbagai posisi dan bergerak bebas di udara,” jawab Viktor datar. Walaupun usianya baru menginjak 18 tahun, dua tahun lebih tua di atas Mia, pemikiran dan sikap Viktor terlihat lebih dewasa.
“Bagus sekali. Semakin dewasa, kalian harus semakin memahami kekuatan kalian sendiri sehingga lebih mudah kalian mengembangkannya,” puji Papa, biasanya beliau jarang sekali memberikan pujian.


Perjalanan menuju sekolah cukup Mia dan Viktor tempuh dengan berjalan kaki karena letaknya yang tak terlalu jauh. Walaupun berangkat sekolah bersama-sama, Mia dan Viktor tidak pernah berjalan berdampingan, biasanya Mia akan berjalan sepuluh meter di belakang Viktor. Tidak ada yang keberatan. Meskipun sudah delapan tahun hidup bersama, Mia dan Viktor sama sekali tidak bisa disebut akrab.

Baru saja  sampai di depan pintu gerbang sekolah, Viktor  langsung disambut oleh Putri, teman sekelasnya yang disebut-sebut sebagai pacarnya Viktor. Mia menghentikan langkahnya, mengamati tingkah laku Putri yang bergelayut manja di lengan Viktor. Viktor tidak menyambut kemanjaan Putri tetapi ia juga tidak menolaknya. Mereka berjalan bersama masuk ke area sekolah. Pemandangan serupa yang setiap hari disaksikannya itu selalu membuat hati Mia panas, Mia yang sudah delapan tahun hidup sebagai adik angkat Viktor tidak pernah berlaku manja ataupun dimanjakan seperti itu. Mia selalu sungkan untuk mendekati Viktor yang selalu bersikap dingin dan tidak bisa ditebak.

Pernah sekali waktu keluarga Marshall bertamasya  ke gunung Tangkuban Perahu, tepatnya lima tahun lalu. Setelah puas menikmati pemandangan kawah gunung. Mia dan Viktor dibiarkan bermain di arena outbound tidak jauh dari penginapan. Waktu itu kedua orang tua mereka memilih untuk berendam di kolam air panas di penginapan. Dari mulai mendaki jaring tambang yang tinggi, flying fox, meniti seutas tali sampai bersepeda menyusuri kebun teh yang terjal dilakoni Mia dan Viktor. Tidak ada yang meragukan rasa haus kedua kakak beradik tidak sedarah itu terhadap tantangan.

Mia dan Viktor bersepeda sendiri-sendiri menyusuri jalanan sempit dan berkerikil sepanjang kebun teh. Demi menghindari seekor tupai  yang melintas, Mia jatuh terjerembab dari atas sepedanya. Badannya luka-luka, tergores, parahnya kepalanya terantuk bebatuan. Mia jatuh pingsan. Ketika sadar, Mia sudah berada di kamar penginapan dengan beberapa balutan di tubuh dan kepalanya. Mama bilang bahwa Viktor yang membawanya pulang ke penginapan dengan menerbangkannya, padahal waktu itu Viktor belum cukup dewasa untuk membawa beban berat. Alhasil Viktor juga jatuh sakit karena tenaganya terkuras habis. Sejak itu Mia yakin bahwa Viktor sebenarnya baik dan penuh perhatian, tapi mungkin karena sesuatu hal, Viktor lebih sering acuh tak acuh pada semua orang.

“Dor!” dari arah belakang, seseorang menepuk pundak Mia. Ternyata itu Shasha, sahabat Mia sejak kecil yang juga merupakan anak dari sahabat ayah ibu angkatnya, Om Danu dan tante Irma.

“Nggak kaget,” sergah Mia bete lalu berjalan mendahului Sasha.

“Pagi-pagi udah cemberut aja, lo! Kenapa? Cemburu sama kakak lo sendiri?” tebak Sasha.

“Sotoy ah,” Mia mempercepat langkahnya.

“Lo musti periksa kejiwaan tuh. Masa naksir kakak sendiri, haha,” seru Sasha.

“Elo yang musti periksa kejiwaan, masa tiang bendera lo pacarin,” balas Mia sambil menjulurkan lidahnya.

“Ebuset, sekate-kate lo bilang cowok gue tiang bendera,” Sasha mengejar Mia yang mulai berlari kecil.

Sejak jam pelajaran dimulai, Mia tidak juga berkonsentrasi. Pikirannya melayang memikirkan perkataan sahabatnya pagi ini. Masa ia naksir kakaknya sendiri, sih? Apa mungkin? Melihat Viktor berdekatan dengan Putri memang membuatnya sedikit sebal. Diam-diam Mia juga sering mengawasi kakaknya. Tidak mungkin itu pertanda suka, kan?

“Tapi, kami kan nggak ada hubungan darah, boleh aja kan pacaran?” batin Mia,  “Hah, pikiran macam apa ini?” segera Mia buang jauh-jauh pikiran konyolnya. Digeleng-gelengkannya kepalanya.

“Plak!” seseorang menepuk kepalanya.

“Apa-ap—“ Umpatan Mia tercekat. Ternyata Mr. Arinto yang memukul kepalanya. Guru bahasa Inggris killer yang merupakan anggota Tim Pengawas dan Penertiban Siswa itu sudah berdiri di samping bangku Mia. Sejak kapan Mr. Arinto datang?

“Stand up, Girl!” perintah Mr. Arinto.

Ternyata semua teman-teman sekelas Mia sudah berdiri dari tempat duduknya. Ini berarti sebuah inspeksi mendadak.

Benar saja. Mia dihukum karena melanggar 3 peraturan sekolah sekaligus, pertama, memakai rok yang terlalu pendek, kaos kali terlalu panjang dan berwarna selain putih.


“Lagi-lagi Mbak Mia, kena hukuman, hehehe...” kekeh Pak Ma’il, petugas kebersihan sekolah sambil menyerahkan ember dan pel bergagang kepada Mia dan tiga siswa pelanggar aturan lainnya.

“Sengaja kok, pengen bantu Pak Ma’il bersih-bersih sekolah,” canda Mia sedikit kesal sambil berlalu menuju keran air untuk mengisi ember.

Mia merasa kedinginan karena kaos kakinya yg tidak sesuai aturan sekolah itu sudah dilepas, sedangkan ia tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk menghangatkan tubuhnya di sekolah, kalau tidak mau ketahuan. Ditambah lagi tiba-tiba hujan turun pagi itu sehingga udara makin dingin.

Baru beberapa blok Mia dan tiga teman senasibnya itu mengepel koridor sekolah, bel istirahat pertama berdering. Berhamburlah siswa-siswi keluar dari kelasnya, membuat usaha Mia mengepel sia-sia karena lantai yang masih basah kembali kotor oleh jejak-jejak sepatu.

“Gimana ini? Udah capek-capek ngepel kok dikotorin lagi,” keluh Laura, anak kelas X-B yang tidak begitu Mia kenal. Ia dihukum karena lupa mengenakan dasi.

“Kita tunggu sampai istirahat selesai aja yuk. Gue laper. Kita ke kantin, habis itu, balik lagi ngepel,” usul Haris, siswa kelas XII yang dihukum karena memakai sepatu berwarna putih dan tidak mengenakan rompi.

“Habis jam istirahat aku harus ulangan Fisika,” sahut Tita, anak kelas XI yang dihukum karena mengenakan rok yang kependekan.

“Ya udah, yang udah dipel, nggak usah dipel lagi. Kalau kotor lagi kan bukan salah kita,” usul Mia.

“Benar, ayo kita selesaikan sebelum jam istirahat habis,” Tita setuju.

“Kalau gitu kalian yang selesaikan, gue mau ke kantin dulu dah, okey,” dengan seenaknya Haris meninggalkan mereka menuju kantin sekolah.

“Hah, enak banget si Haris itu,” gerutu Tita.

“Kan masih banyak yang harus kita pel. Nggak adil,” keluh Laura.

Mia pun merasa Haris ini tidak setia kawan. Sementara itu lewatlah rombongan genk Putri.

“Lho, Mia, ngapain di sini?” tanya Putri ramah sambil melirik tongkat pel yang sedang dipegang Mia, kemudian berganti melirik kelengkapan seragam Mia. “Pakai rok sependek itu dan nggak pakai kaos kaki, apa nggak dingin?” tanyanya lagi. “Sebenarnya pengen bantu. Tapi kalau Pak Guru tahu, nanti kita dimarahin. Semangat yah ngepelnya, hihihi,” sambil begitu Putri berlalu, disusul dengan teman-temannya yang tertawa tertahan melihat Mia.

“Hisssh. Sebel…!” gerutu Mia begitu genk Putri sudah berlalu. Cepat-cepat Mia menyelesaikan tugasnya.  
Karena mengepel sambil tidak memperhatikan lantai yang dipelnya, tahu-tahu, kain pel Mia menyangkut di sepatu seseorang di depannya. Mia mendongakkan kepala. Viktor! Viktor mengernyitkan kepalanya.

“Handphone-mu dimana?” tanyanya.

“Eh, HP?” Mia meraba saku jasnya, tidak ada. “Oh, di tas.” Buru-buru ia mengimbuhi, “di kelas..”

“Gue tadi SMS,” kata Kak Viktor.

“Ada apa?” tanya Mia gugup.

Viktor membawa Mia agak menjauh dari teman-teman seperjuangannya mengepel, “Mama dan Papa baru aja ke Bandung. Nanti sepulang sekolah kita nyusul mereka. Jadi nanti lo langsung pulang, kalau ada acara, dibatalin dulu.”

“Hah, kok mendadak amat?” Mia keheranan. Tidak pernah dengar rencana keluarga akan ke Bandung, tiba-tiba harus menyusul orang tua ke Bandung sepulang sekolah.

“Itu aja. Selesaikan hukumanmu, lalu hangatkan kakimu sebentar di tempat yang tidak ada orang lain tahu,” 
 Viktor berlalu.

Mia menjadi lebih bersemangat melanjutkan hukumannya. Entah karena kakinya semakin dingin, jam istirahat yang segera habis, atau karena ingin buru-buru melakukan saran Kakak angkatnya yang tumben perhatian dengan kakinya yang kedinginan. Tapi pertanyaan tentang rencana ke Bandung belum terjawab.

“Ada apa kami harus ke Bandung?”

BERSAMBUNG………


musik

One of my Favorite bands, SCANDAL Band from Japan

22.49

Akhir2 ini aku lagi suka SCANDAL sebuah band rock asal Jepang yg semua anggotanya perempuan. Yang membuatku tertarik dengan band ini,
1. Asal mereka dari Jepang
2. Aliran rock music
3. Konsepnya pakai seragam sekolah/seifuku
4. Mereka seusia denganku
5. (Tentu saja) mereka bisa mainkan alat musik/instrument
6. Karakter mereka seperti tokoh2 anime. (Mereka penggemar anime dan manga sama sepertiku ^_^)

Yang paling aku suka adalah Tomomi Ogawa si bassist, suaranya chipmunky atau cempreng khas cewek2 lolita Jepang dan memang gayanya lolita, dengan baju2 yang manis atau berenda2, aksi panggung Tomo juga bagus, sering berlari kesana kemari untuk menghibur penonton, selalu kelihatan ceria dan bersemangat,  BTW sebagian besar lagu2 SCANDAL, Tomo yang ciptakan.

Personil favorit keduaku Mami Sasazaki, bisa dibilang dia anggota tercantik di SCANDAL. Aku suka dia karena pertama, dia gitaris, aku selalu suka gitaris. Kedua, dia kalem dan tenang banget saat main gitar, jadi kesannya misterius. Selain itu sebagai lead guitarist dia bisa memainkan melody2 yang rumit.

Anggota favorit ketiga, aku hampir bingung pilih antara Haruna Ono si vocalist+guitarist yang memainkan rhythim atau Rina Suzuki si drummer. Jadi aku pilih Haruna aja deh. Haruna ini kelihatannya yang paling tomboy dan 'rockish' dibanding anggota lainnya. Dia juga leader yang baik, sebagai anggota yang paling tua.

Dan terakhir tentu saja Rina Suzuki. Memang drummer letaknya selalu paling belakang dan tidak bisa berkeliaran kesana kemari blocking panggung. Makanya aku belum mengenal Rina. Tapi Rina punya charming point tersendiri, tapi aku sendiri belum nemuin sih.. Tapi aku tetep salut, sebagai cewek dia bisa main drum dengan baik. Ohya sekilas wajahnya mirip artis/anggota girlband Korea Kara Goo Ha Ra.

Ohya Scandal udah mulai debutnya sejak SMA lho, dari jadi band indie yang seminggu sekali tampil, mendapat fans setia kemudian perlahan terkenal, bahakan sebelum terkenal di seluruh Jepang, SCANDAL udah diundang buat manggung di Perancis dan Amerika.

Dari lagu2 SCANDAL yang sudah aku dengarkan, banyak yang menarik perhatianku, diantaranya yang pertama membuatku jatuh cinta yaitu HARUKAZE yang merupakan ost dari anime shonen (untuk cowok) terkenal Jepang "Bleach", liriknya cocok kbuat yang sedang pacaran atau jatuh cinta ^_^. Kedua, ada SCANDAL BABY yang upbeat. Lalu Namida no Regret/Air mata penyesalan yang melow, apalagi lihat video klipnya, jadi makin kerasa soul lagunya. Lalu ada Pinhel Surfer yang kalau pertama lihat video klipnya, bakal ngira ini girlgroup, bukannya band rock, tapi lagunya charming dan lucu gitu. Dan lagu terakhir yang aku dengarkan yaitu Haruka/Jauh, yang liriknya dalem banget., tentang patah hati gitulah.

Ini dia anggota SCANDAL


dari kiri Tomomi Ogawa, Rina Suzuki, Haruna Ono, Mami Sasazaki

Terjemahan lirik lagu

The All American Rejects: Straight Jacket Feeling, Lyrics and Indonesian Translation

08.08

The All American Rejects
Awal nemu band ini waktu lagi ngaskus, baca thread tentang lagu2 galau yang abis. Trus ada yang rekomendasiin lagu It Ends Tonight dan Straight Jacket Feeling. Dua lagu ini sukses nemenin masa galauku waktu itu. Hehe... Dan sekarang galau lagi, haha... Berhubung udah ada terjemahan bahasa Indonesia It Ends Tonight di situs lain, gw mau nerjemahin Straight Jacket Feeling/ Straitjacket Feeling.

Straight Jacket adalah sebuah jaket yang bagian lengan yang terkunci dengan ikatan-ikatan, bisa juga berupa pakaian terusan dengan bagian kaki dan tangan terkunci dan terikat. Dipakaikan untuk penderita sakit jiwa yang tidak terkontrol sehingga ia tidak bisa bergerak bebas, supaya ia tidak bisa menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Jadi perasaan memakai straitjacket itu sangat tersiksa, tertahan, tidak berdaya.
straight jacket
Now check the lyrics out...
Straight Jacket Feeling
by The All American Rejects

Back me down from backing up
Hold your breath now it's stacking up
Etched with marks, but I can deal
And you're the problem and you can't feel
Try this on, straitjacket feeling
so maybe I won't be alone
Take back now, my life you're stealing
Turunkanku dari perlindungan
Tahanlah napasmu sekarang, yang tertumpuk
Terukir dengan tanda, tapi aku bisa tangani
Dan kaulah masalahnya dan kau tak bisa rasakan
Cobalah ini, perasaan straitjacket
jadi mungkin aku tak akan sendirian
Sekarang ambillah kembali, hidupku yang kau curi

Yesterday was hell
But today I'm fine without you
Run away this time without you
And all I ever thought you'd be
That face is tearing holes in me again
Hari kemarin adalah neraka
Namun hari ini aku baik-baik saja tanpamu
Melarikan diri kali ini tanpamu
Dan semua yang pernah kufikirkan adalah kau akan bisa..
Wajah itu merobek lubang di diriku lagi


Trust you is just one defense
off a list of others, you don't make sense
Beg me time and time again
to take you back now, but you can't win
Take back now, my life you're stealing
Mempercayaimu adalah satu pertahanan
Dari pertahanan lainnya, kau omong kosong
Mengemis kesempatan dan kesempatan lagi
Untuk mengambilmu lagi,  tapi kau tak bisa menang
Sekarang ambillah hidupku, yang kau curi

Yesterday was hell
But today I'm fine without you
Run away this time without you
And all I ever thought you'd be
That face is tearing holes in me
but today I'm fine without you
Run away this time without you
And all the things you put me through
I'm holding on by letting go of you
Hari kemarin adalah neraka
Namun hari ini aku baik-baik saja tanpamu
Melarikan diri kali ini tanpamu
Dan semua yang pernah kufikirkan adalah kau akan bisa..
Wajah itu merobek lubang di diriku lagi
Namun hari ini aku baik-baik saja tanpamu
Melarikan diri kali ini tanpamu
Dan semua hal yang kau berikan padaku
Aku menahannya dengan cara melepasmu pergi

And when that memory slips away
There'll be a better view from here
And only lonesome you remains
and just the thought of you I fear
it falls away
dan ketika kenangan-kenangan lambat laun hilang
akan ada pandangan yang lebih baik dari sini
dan hanya kesepian yang tersisa akanmu
dan hanya angn tentangmu yang kutakutkan
semuanya terpungkiri

Yesterday was hell
But today I'm fine without you
Run away this time without you
And all I ever thought you'd be
That face is tearing holes in me
but today I'm fine without you
Run away this time without you
And all the things you put me through
I'm holding on by letting go of you
Hari kemarin adalah neraka
Namun hari ini aku baik-baik saja tanpamu
Melarikan diri kali ini tanpamu
Dan semua yang pernah kufikirkan adalah kau akan bisa..
Wajah itu merobek lubang di diriku lagi
Namun hari ini aku baik-baik saja tanpamu
Melarikan diri kali ini tanpamu
Dan semua hal yang kau berikan padaku
Aku menahannya dengan cara melepasmu pergi

Kalo lo suka The All American Rejects , dukung mereka dengan beli album original mereka yah!! J